Sebuah laboratorium rahasia yang memproduksi vape berisi narkoba akhirnya terbongkar. Lokasinya di sebuah apartemen di Jakarta Timur. Yang menarik, awal mula pengungkapan kasus ini justru berkat kewaspadaan seorang driver ojek online.
Driver itu merasa ada yang tidak beres dengan paket yang hendak dia antar. Isinya mencurigakan. Daripada mengantarkan, dia memilih untuk melaporkannya langsung ke Bareskrim Polri. Langkahnya itu ternyata tepat.
Brigjen Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim, mengkonfirmasi hal ini.
"Karena merasa curiga dengan paket yang akan diantarkan, kemudian yang bersangkutan datang ke Bareskrim Polri," ujarnya pada Kamis (16/4).
Tim pun bergerak cepat. Paket itu segera diperiksa dengan sinar-X, dan kecurigaan sang driver terbukti: isinya benar-benar narkoba. Dari titik inilah penyelidikan dimulai, berujung pada penggerebekan di apartemen tersebut.
Operasi penyamaran dilakukan oleh personel Subdit IV. Hasilnya, satu tersangka berhasil diamankan di tempat. Sayangnya, satu orang lainnya yang diduga sebagai pengendali masih buron dan terus diburu.
Dari penggerebekan itu, polisi menyita barang bukti yang cukup banyak. Tidak main-main: ada 13 cartridge hitam bermerek 'MAFIA' yang diduga kuat berisi cairan etomidate. Selain itu, ditemukan juga satu bungkus bening berisi sabu, plus berbagai peralatan produksi. Semuanya diamankan dari apartemen di Jakarta Timur itu.
Kasus ini menunjukkan pola baru yang mengkhawatirkan: penyalahgunaan narkoba yang dikemas dalam bentuk vape. Namun begitu, kewaspadaan warga biasa, dalam hal ini sang driver ojol, terbukti menjadi kunci utama mengungkap jaringan ini. Kolaborasi antara masyarakat dan aparat memang masih efektif untuk meredam peredaran barang haram.
Artikel Terkait
Kebijakan Visa AS Dinilai Hambat Antusiasme Suporter ke Piala Dunia 2026
Militer Israel Selidiki Tewasnya Bayi 7 Bulan Akibat Tembakan Pasukan di Tepi Barat
BWF Resmi Ubah Format Turnamen Super 1000, Durasi Diperpanjang hingga 11 Hari
Kejaksaan Agung Dinilai Berani Bongkar Korupsi di Badan Gizi Nasional, Beri Peringatan Keras ke Pengelola Program MBG