Jakarta dan Shenzhen Sepakat Jalin Kerja Sama Kota Kembar
Jakarta dan Shenzhen resmi berkomitmen untuk menjalin hubungan sister city. Kesepakatan ini diharapkan bisa mempererat hubungan internasional sekaligus mendorong pembangunan yang lebih maju dan berkelanjutan di kedua belah pihak. Intinya, ini jadi ruang untuk saling berbagi pengalaman terbaik dalam mengatasi berbagai persoalan kota besar yang mereka hadapi.
Mulai dari transportasi, kemacetan, polusi, sampai banjir. Semua itu masuk dalam agenda.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berharap proses penyusunan Letter of Intent (LoI) bisa segera dimulai. Itu adalah langkah awal.
"Kami ingin belajar dari Shenzhen sebagai role model," ujar Pramono.
Setelah LoI, rencananya kerja sama akan dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Targetnya, realisasi penuh sebagai kota kembar bisa terwujud pada November 2026. Cukup panjang memang, tapi tahapannya harus jelas.
Dari Kota Pertemanan Menuju Kembaran
Di sisi lain, Executive Vice Mayor Shenzhen, Tao Yongxin, punya usulan yang lebih bertahap. Ia menawarkan empat bidang potensial untuk dikembangkan: teknologi dan inovasi, hubungan masyarakat lewat pertukaran mahasiswa dan budaya, serta sektor maritim.
Tapi, sebelum resmi menjadi sister city, Tao Yongxin mengusulkan dimulai dari status friendship city dulu.
"Kami ingin memulai dari friendship city sebagai langkah awal menuju sister city," jelasnya.
Tak cuma wacana, Shenzhen juga membuka peluang konkret. Mereka siap mengirim perusahaan-perusahaannya ke Jakarta. Bidangnya beragam, mulai dari elektrifikasi kendaraan, pengembangan infrastruktur pengisian daya untuk listrik, sampai pemanfaatan kecerdasan buatan untuk layanan publik. Tawaran yang cukup menggiurkan, tentunya.
Belajar dari Sebuah Transformasi
Harus diakui, tantangan Jakarta tidak sederhana. Dengan populasi sekitar 11 juta jiwa di dalam kota dan hampir 42 juta di kawasan Jabodetabek, persoalannya sangat kompleks. Di sinilah Shenzhen merasa punya pengalaman berharga untuk dibagikan.
Posisi strategis Indonesia di jalur maritim global juga dinilai sebagai nilai tambah yang kuat untuk kolaborasi ini.
Shenzhen sendiri adalah cerita sukses yang fenomenal. Bayangkan, kota yang pada 1980-an ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus ini, berubah drastis dari kawasan nelayan sederhana. Kini, ia menjelma menjadi pusat teknologi global dengan penduduk sekitar 20 juta jiwa.
Kemajuannya di bidang teknologi dan pengembangan kota pintar sangat pesat. Nama-nama besar seperti Huawei dan BYD berkantor pusat di sana. Tak heran jika kota ini dianggap sebagai salah satu yang terdepan dalam inovasi. Sebuah model yang ingin diteladani Jakarta untuk menjawab tantangannya sendiri.
Artikel Terkait
Mantan Preman Terminal Semarang Kini Jadi Perwira Kopassus, Letkol Untung Pranoto Buktikan Hidup Bisa Berubah
KPK Ungkap Tarif Ilegal Percepatan Izin Tinggal WNA Capai Rp1,5 Juta per Orang, Libatkan Mantan Wamen Imipas
Buronan AS 15 Tahun Kasus Pelecehan Seksual Ditangkap di Bunker Sawangan, Depok
Pria di Lampung Selatan Nekat Tusuk Kekasih 12 Kali karena Tak Diizinkan Menginap