Nasib tragis akhirnya benar-benar menghampiri Leicester City. Klub yang satu dekade lalu mengguncang dunia sepak bola itu, kini harus merasakan pahitnya degradasi ke League One, kasta ketiga Liga Inggris. Kepastian itu datang usai mereka hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Hull City, Selasa lalu.
Padahal, sempat ada harapan. Di menit ke-54, gol Jordan James dan Luke Thomas membawa The Foxes unggul 2-1. Sorak sorai penggemar seolah mengira kemenangan akan datang. Namun, mimpi buruk datang tujuh menit berselang. Oliver McBurnie sukses membobol gawang Leicester dan menyamakan kedudukan. Gol itu bagai tamparan keras.
Dengan hasil itu, posisi mereka di klasemen Championship tak bergeming: peringkat 23, dengan tabungan 42 poin dari 44 laga. Jarak tujuh poin dari zona aman, sementara hanya tersisa dua pertandingan, jelas sebuah jurang yang mustahil diseberangi. Hitungan matematisnya sudah tak lagi berpihak.
Gary Rowett, sang pelatih, tentu saja harus menelan pil pahit yang teramat getir. Ini adalah degradasi pertama Leicester ke kasta ketiga sejak tahun 2009. Sebuah kemunduran yang terasa sangat jauh.
Dan inilah ironi yang paling menyayat. Kejatuhan ini terjadi tepat sepuluh tahun setelah mereka menorehkan sejarah paling manis, mungkin yang terhebat dalam sepak bola Inggris modern: menjadi juara Premier League musim 2015/2016.
Siapa yang bisa lupa?
Di bawah asuhan Claudio Ranieri, mereka melakukan hal yang mustahil. Tak seorang pun, bahkan para pemimpi paling liar sekalipun, yang menjagokan mereka. Peluangnya waktu itu disebut-sebut 5.000 banding 1. Tapi mereka membungkam semua keraguan.
Dengan performa kuda hitam yang memukau, Leicester mendulang 81 poin dan keluar sebagai jawara. Jamie Vardy menjadi simbol keperkasaan itu, mencetak 24 gol dan menjadi ujung tombak yang ditakuti.
Namun begitu, keajaiban itu rupanya tak bertahan lama. Setelah puncak itu, perlahan namun pasti, grafik mereka justru menurun. Mereka tak lagi sanggup bersaing di papan atas. Bahkan, pada akhir musim 2024/2025, mereka terlempar dari Premier League ke Championship.
Dan musim ini, di kasta kedua, bukannya bangkit, malah terjun bebas lebih dalam. Satu musim di Championship berakhir dengan kepastian pahit: terdegradasi lagi. Dari juara liga utama, kini harus berjuang di League One. Perjalanan sepuluh tahun yang sungguh menunjukkan betapa kerasnya dunia sepak bola.
Artikel Terkait
BREN dan DSSA Anjlok Lagi, Tertekan Aturan Baru BEI Soal Kepemilikan Saham
Polwan Iptu Juani Ubah Kawasan Mal Narkoba di Tarakan Jadi Kampung Tematik
IDF Hukum Dua Prajurit yang Hancurkan Patung Yesus di Lebanon
ASUKA Raih Penghargaan K3 dan Disiplin Proyek dari Pertamina Balikpapan