Pemerintah dan BUMN Sepakati Pengembangan Dryport di KEK Batang untuk Efisiensi Logistik

- Rabu, 22 April 2026 | 04:15 WIB
Pemerintah dan BUMN Sepakati Pengembangan Dryport di KEK Batang untuk Efisiensi Logistik

Jakarta, Selasa (21/4/2026) – Langkah nyata untuk memperkuat tulang punggung logistik nasional kembali digeber. Kali ini, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan dryport atau pelabuhan kering berbasis rel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang. MoU ini melibatkan sejumlah pemain kunci: PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KEK Industropolis Batang) dari Danareksa, PT KAI, PT Pelindo, Pemprov Jawa Tengah, dan Pemkab Batang.

Acara yang digelar di Ballroom Gedung Pengelola KEK itu mendapat sorotan langsung dari pemerintah pusat. Ali Murtopo Simbolon, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, menegaskan inisiatif ini sejalan dengan agenda besar pemerintah.

"Penguatan konektivitas berbasis rel dan integrasi dengan pelabuhan menjadi kunci untuk menurunkan biaya logistik nasional," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ali menambahkan, kolaborasi seperti di Batang ini adalah contoh konkret bagaimana kerja sama bisa menghadirkan solusi nyata. Solusi untuk efisiensi dan, yang tak kalah penting, daya saing ekonomi Indonesia di kancah global.

Dari sisi perkeretaapian, optimisme juga mengemuka. Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, tak ragu menyebut konektivitas rel akan menjadi game changer dalam sistem distribusi logistik.

"Integrasi antara kawasan industri dan jaringan kereta api akan memberikan nilai tambah signifikan bagi para pelaku industri," tegas Bobby.

KAI sendiri sudah menyatakan kesiapannya mendukung penuh. Caranya? Dengan menyediakan jaringan dan layanan angkutan barang berbasis rel yang andal, efisien, dan tentu saja berkelanjutan. Bobby juga mengungkapkan, target groundbreaking proyek ambisius ini rencananya dimulai pada Juni 2026 mendatang.

Lalu, bagaimana dari sudut pandang kepelabuhanan? Achmad Muchtasyar, Direktur Utama Pelindo, melihat kehadiran dryport ini justru akan memperkuat ekosistem pelabuhan nasional yang sudah ada.

"Dryport Industropolis Batang akan menjadi perpanjangan dari layanan pelabuhan," jelasnya.

Menurut Achmad, fasilitas ini memungkinkan proses logistik dilakukan lebih dekat dengan kawasan industri. Hasilnya? Efisiensi yang meningkat, arus barang yang lebih cepat, dan konektivitas dengan jaringan pelabuhan global yang makin kokoh.

Bagi pengelola kawasan, Ngurah Wirawan selaku Direktur Utama KEK Industropolis Batang, pengembangan dryport bukan sekadar proyek tambahan. Ini adalah bagian integral dari strategi besar mereka.

"Kami melihat kebutuhan akan sistem logistik terintegrasi sebagai faktor kunci dalam menarik investasi berkualitas," sebut Ngurah.

Dengan adanya dryport, KEK Industropolis Batang tidak lagi hanya sekadar kawasan industri. Ia bertransformasi menjadi pusat logistik terintegrasi yang siap bersaing di tingkat dunia.

Membangun Simpul Strategis

Di tengah meningkatnya tuntutan efisiensi rantai pasok, inisiatif ini dinilai sebagai sinyal kuat. Sinyal percepatan transformasi KEK Industropolis Batang menjadi simpul strategis industri dan logistik nasional.

Fasilitas yang dirancang sebagai tulang punggung logistik ini memang ambisius. Ia akan mengintegrasikan kawasan industri dengan jaringan pelabuhan laut dan distribusi darat secara lebih efektif. Dan yang utama, berkelanjutan.

Fungsinya nanti beragam. Mulai dari gerbang ekspor-impor bagi tenant yang ada, hingga pusat konsolidasi logistik regional. Targetnya jelas: memangkas biaya distribusi dan waktu tempuh secara signifikan.

Dengan koneksi langsung ke moda kereta api dan pelabuhan, ketergantungan pada transportasi jalan raya diharapkan bisa berkurang. Sistem logistik nasional pun didorong untuk menjadi lebih efisien dan kompetitif.

Dikembangkan di atas lahan sekitar 30 hektare, kapasitas awalnya ditargetkan mencapai 600-650 ribu TEUs per tahun. Angka itu berpotensi melonjak hingga satu juta TEUs, seiring pertumbuhan kawasan dan permintaan pasar yang terus menggeliat.

Kehadirannya diharapkan akan menciptakan salah satu simpul logistik darat paling strategis di Indonesia. Menjadi jembatan yang memperkuat konektivitas antara industri di Jawa Tengah dengan pelabuhan utama nasional, bahkan jaringan perdagangan global.

Yang menarik, proyek ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah buah dari pendekatan kolaboratif lintas sektor, mengintegrasikan kekuatan BUMN, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan. Sinergi antara sektor perkeretaapian, kepelabuhanan, dan pengembangan kawasan inilah yang menjadi fondasi utamanya.

(Ilustrasi industri logistik. Foto: dok Majoo.id)

Komitmen Jangka Panjang

Lebih jauh, proyek ini mempertegas positioning KEK Industropolis Batang. Mereka tak mau hanya dikenal sebagai kawasan manufaktur. Tujuannya lebih besar: menjadi pusat logistik terintegrasi yang mampu mendukung investasi skala besar.

Dengan proyeksi pertumbuhan tenant yang cukup signifikan, keberadaan dryport menjadi elemen krusial. Ia akan memastikan kelancaran arus barang dari kawasan industri menuju pasar, baik domestik maupun internasional.

Pelaksanaannya akan dilakukan bertahap. Dimulai dari finalisasi konsep dan studi kelayakan di tahun 2026 ini. Lalu, pembangunan infrastruktur dan integrasi sistem akan menyusul pada periode 2027-2028. Baru setelah itu masuk tahap operasional dan ekspansi sesuai kebutuhan pasar.

Rencana bertahap ini menunjukkan komitmen jangka panjang. Komitmen untuk membangun fondasi logistik yang kuat dan berkelanjutan, bukan sekadar proyek seremonial belaka.

Dengan dukungan penuh pemerintah dan para mitra strategis, KEK Industropolis Batang terus bergerak. Memperkuat posisinya sebagai destinasi investasi unggulan yang siap menjawab tantangan industri masa depan. Sekaligus, memberikan kontribusi nyata bagi struktur logistik nasional yang lebih tangguh.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar