Wakil Ketua MPR Soroti Peran Kearifan Lokal dan Empat Pilar dalam Pelestarian Alam

- Senin, 20 April 2026 | 18:05 WIB
Wakil Ketua MPR Soroti Peran Kearifan Lokal dan Empat Pilar dalam Pelestarian Alam

Di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat lalu, suasana nonton bareng film 'Teman Tegar: Maira, Whisper From Papua' berlangsung khidmat. Acara itu bukan sekadar tontonan biasa, melainkan bagian dari Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie hadir di tengah-tengah masyarakat.

Filmnya sendiri menyentuh. Bercerita tentang Maira, seorang gadis 12 tahun dari pedalaman Papua. Perjuangannya melindungi hutan adat dari para pembalak liar bukan cuma soal lingkungan. Itu soal mempertahankan budaya dan masa depan sebuah komunitas.

Dalam keterangan tertulisnya pada Senin (20/4/2026), Rerie menyoroti pesan kuat dari film tersebut.

"Pengamalan nilai-nilai kebangsaan mendorong terwujudnya harmoni dalam keseharian kita, termasuk dalam hubungan antara manusia dan alam yang sejak masa lampau ditopang oleh beragam kearifan lokal di tanah air kita,"

Baginya, warisan nilai kebangsaan dari para pendahulu punya satu tujuan utama: menciptakan harmoni bagi generasi penerus. Harmoni dalam berbangsa, bernegara, dan tentu saja, dengan alam.

Menurut Rerie, manusia dan alam itu ibarat dua sisi mata uang. Tak terpisahkan. Itu sebabnya, mengedepankan kearifan lokal adalah langkah paling masuk akal untuk menjaga kelestarian lingkungan. Masyarakat Sulawesi Tengah, misalnya, paham betul soal ini. Mereka pernah merasakan langsung dampak ekstrem perubahan lingkungan akibat bencana di masa lalu.

Nah, di sinilah peran Empat Pilar Kebangsaan itu muncul. Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR dari Partai NasDem itu meyakini, pilar-pilar itu mengingatkan kita semua. Menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, tapi sudah jadi tanggung jawab kolektif sebagai sebuah bangsa.

Dijelaskannya, setiap pilar punya perannya sendiri. Pancasila mengajarkan keberadaban. UUD 1945 jelas menegaskan tanggung jawab negara atas sumber daya alam. Konsep NKRI menegaskan bahwa ruang hidup ini adalah milik bersama yang harus dijaga. Sementara Bhinneka Tunggal Ika mendorong terciptanya harmoni dalam keberagaman sehari-hari.

Di akhir pernyataannya, Rerie kembali mengajak refleksi dari film tersebut.

"Belajar dari film 'Teman Tegar: Maira, Whisper From Papua', masa depan tidak ditentukan oleh apa yang kita ketahui, tetapi oleh apa yang kita sadari dan kita lakukan. Generasi muda hari ini bukan hanya saksi, tetapi penentu arah perjalanan bangsa,"

Pesan itu jelas. Tindakan nyata, yang berangkat dari kesadaran, jauh lebih menentukan daripada sekadar pengetahuan. Dan peran generasi muda, dalam hal ini, absolut. Mereka bukan penonton, melainkan navigator yang akan mengarahkan masa depan bangsa.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar