Meski sempat terpukul, kekuatan militer Iran ternyata belum lumpuh. Itulah inti penilaian terbaru dari pejabat intelijen dan militer Amerika Serikat. Konflik yang terjadi memang menyebabkan kerusakan signifikan, tapi nyatanya, Teheran masih memegang sebagian besar kemampuan tempurnya.
Laporan dari The New York Times, yang dikutip Anadolu pada suatu Minggu di pertengahan April 2026, memberikan gambaran yang cukup rinci. Disebutkan, Iran masih menguasai sekitar 40 persen persenjataan drone yang dimilikinya sebelum perang. Bahkan, lebih dari 60 persen peluncur rudalnya masih utuh. Fakta ini, menurut laporan tersebut, menunjukkan bahwa Iran sedang aktif-aktifnya memulihkan kapasitas operasionalnya.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku awal April, ada gerak-gerik yang patut dicermati. Lebih dari seratus sistem peluncur rudal dilaporkan telah dipindahkan, disembunyikan di dalam gua dan bunker-bunker yang tersebar. Upaya pemulihan juga berjalan di fasilitas-fasilitas bawah tanah yang rusak. Kalau proses ini berhasil, bukan mustahil persenjataan Iran bisa bangkit kembali hingga 70 persen dari kondisi sebelum konflik.
Memang, infrastruktur untuk memproduksi senjata mereka rusak berat. Tapi, pejabat AS sendiri mengakui satu hal: kemampuan Iran untuk mengganggu lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz masih sangat nyata. Itu jadi ancaman yang selalu menggantung.
Di sisi lain, para analis melihat ada perubahan dalam strategi Iran. Mereka kini tampaknya lebih mengandalkan faktor geografis kawasan itu sebagai benteng pertahanan. Selat yang sempit dan ramai itu menjadi kartu truf.
Pendapat senada datang dari Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel.
"Menutup Selat Hormuz tetap menjadi opsi utama bagi Iran jika situasi memanas," katanya.
Ia menambahkan, kapal-kapal tanker komersial pada umumnya hanya punya perlindungan yang sangat terbatas. Jadi, rentan.
Sementara itu, dari Moskow, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev turut menyoroti nilai strategis kawasan itu. Ia menggambarkan Selat Hormuz bukan sekadar jalur air, melainkan faktor penentu dalam dinamika konflik regional.
"Potensinya sangat besar," ujar Medvedev singkat namun penuh makna.
Untuk sekarang, Iran memang belum melakukan eskalasi langsung terhadap Angkatan Laut AS yang berpatroli di sana. Namun begitu, suasana di lapangan tidak sepenuhnya tenang. Dalam beberapa waktu terakhir, tekanan terhadap aktivitas perdagangan maritim Iran dilaporkan makin meningkat. Situasinya seperti bara dalam sekam, terlihat diam tapi menyimpan panas.
Artikel Terkait
KPK Ungkap Motif Pribadi dan Biaya Politik Jadi Pemicu Korupsi Kepala Daerah
Trump Kirim Utusan ke Islamabad untuk Negosiasi dengan Iran
Satgas Cartenz Sita Ratusan Senjata Tradisional Pasca Baku Tembak di Yahukimo
Kementerian Kebudayaan Gelar Peringatan 71 Tahun KAA, Usulkan Kawasan Asia Afrika ke UNESCO