Acara Halal Bi Halal di Jakarta Selatan, Minggu lalu, jadi tempat Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berbagi cerita. Dia hadir bersama para orang tua mahasiswa ITB. Dalam kesempatan itu, dia angkat bicara soal lagu 'Erika' yang belakangan ramai karena dianggap melecehkan perempuan.
Pramono, yang dulu pernah jadi Ketua Himpunan Mahasiswa Tambang ITB, langsung bernostalgia. "Saya dulu pernah ikut Orkes Semi Dangdut atau OSD di himpunan," ujarnya. Posisinya waktu itu? "Pegang ecrek-ecrek," katanya sambil tertawa, "pasti masih ada fotonya. Lagu 'Erika' itu kan lagu wajib kalau ada acara OS ITB."
Tapi menurutnya, lirik yang dulu dia nyanyikan beda jauh dengan yang sekarang viral. Dulu, lagu itu justru punya muatan kritik sosial. "Saya yakin dan prihatin, dulu liriknya bukan seperti itu," tegas Pramono. Bahkan, dia bilang, mahasiswa tambang ITB dulu menyanyikan 'Erika' sambil menirukan pidato Presiden Soeharto. Itu semua bagian dari perlawanan terhadap rezim yang otoriter.
"Kalau ditanya, pernah nyanyi lagu 'Erika'? Saya jawab: pernah. Tapi syairnya berbeda," tuturnya lagi. Dia masih hafal lagu itu. Meski begitu, perannya di OSD hanya sekadar pemain tambahan. "Paling cuma jadi backing vokal kalau dibutuhkan," kenangnya.
Di sisi lain, respons resmi dari kampus sudah keluar. Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, lewat unggahan Instagram resmi, menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Dia menegaskan sikap tegas kampus. "Kami tidak akan memberikan toleransi apapun terhadap perbuatan yang mengandung kekerasan di lingkungan kampus," ucap Tata.
Rektor menjelaskan, pihaknya sudah bergerak cepat. Ada rapat maraton dengan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK). Mereka juga bertemu dengan keluarga mahasiswa dan para ketua himpunan jurusan. Tujuannya jelas: meningkatkan kesadaran dan mencegah kejadian serupa terulang. "Ini jadi pengingat bagi kami untuk terus berbenah," kata Tata, seraya berterima kasih atas masukan dari berbagai pihak.
Sementara itu, dari internal himpunan sendiri, permintaan maaf juga disampaikan. Himpunan Mahasiswa Tambang ITB mengakui bahwa konten dalam penampilan itu tidak mencerminkan nilai-nilai akademik dan kemahasiswaan. Mereka tak membenarkan tindakan merendahkan martabat siapapun.
"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya," tulis HMT ITB dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (15/4). Mereka paham betul sensitivitas isu ini dan menyatakan empati, terutama kepada perempuan. Langkah penurunan konten dari media sosial dan evaluasi internal pun sudah dilakukan, termasuk meninjau lagu-lagu lain yang punya unsur serupa.
Jadi, ceritanya jadi lebih kompleks. Dari sekadar lagu yang viral, muncul ingatan tentang fungsi lain sebuah lagu di masa lalu. Sekaligus jadi cermin, bagaimana sebuah tradisi bisa berubah maknanya, dan harus dikoreksi ketika sudah melenceng.
Artikel Terkait
Korlantas Polri Gunakan Drone ETLE untuk Awasi Lalu Lintas Kemala Run 2026 di Gianyar
Getaran Misterius Guncang Tiga Blok di Desa Cipanas Cirebon, Warga Panik
NEXT Indonesia Center: Ekonomi 2026 Masih Berpeluang Tumbuh di Atas 5 Persen
Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu Ancam Ekosistem Perairan Indonesia