Di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Sabtu lalu, Sekjen partai Hasto Kristiyanto membuka sedikit tabir tentang aktivitas terbaru Megawati Soekarnoputri. Mantan presiden yang juga ketua umum partai itu ternyata cukup sering menerima tamu-tamu penting dari luar negeri. Beberapa duta besar negara sahabat, kata Hasto, telah dan akan bertandang untuk bertemu langsung dengan Ibu Mega.
Bagi Hasto, hal ini wajar saja. “Ibu Mega kan menjadi sumber primer terkait sejarah Indonesia, terkait dengan Bung Karno, perjuangan Bung Karno, dan juga kepemimpinan Ibu Mega sebagai Presiden kelima,” ujarnya.
“Sehingga Ibu Mega terbuka untuk menerima kunjungan para duta besar dari negara-negara sahabat.”
Pertemuan-pertemuan itu bukan sekadar basa-basi diplomatik belaka. Menurut penuturan Hasto, obrolan mereka kerap menyentuh hal-hal yang berat. Isu geopolitik global dan relevansinya dengan kondisi saat ini jadi topik hangat. Megawati pun disebut tak segan menyuarakan sikapnya.
“Dan kemudian ketika melihat ketidakadilan, maka Ibu Mega juga bersikap,” lanjut Hasto.
“Maka Ibu Mega mengirimkan surat duka atas wafatnya Supreme Leader Iran, Ayatullah Khamenei, dan juga mengucapkan selamat ketika pemimpin tertinggi Iran berhasil dibentuk kembali. Ya, itulah yang dilakukan oleh Ibu Mega.”
Rupanya, agenda pertemuan seperti ini cukup padat. Hasto menyebutkan beberapa nama. “Demikian pula Duta Besar dari Pakistan, kemarin Duta Besar dari Jerman, dan kemudian juga nanti telah menunggu Duta Besar dari Inggris, dari Australia, dan dari Vietnam,” paparnya. Intinya, semua dibingkai dalam semangat memperkuat hubungan bilateral.
Sebelumnya, tepatnya Jumat (17/4), pertemuan serupa sudah terjadi. Ralf Beste, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, menyambangi kediaman Megawati di kawasan Menteng. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu juga dihadiri sejumlah petinggi PDIP seperti Ahmad Basarah dan Hilmar Farid.
Pembicaraan mereka, lagi-lagi, mengerucut pada situasi geopolitik. Timur Tengah dan peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung ikut disinggung.
Menariknya, Dubes Ralf berbagi cerita tentang kunjungannya ke Kota Kembang. “Saya berkeliling untuk lebih mengenal Indonesia. Saya baru saja ke Bandung dan mengunjungi Museum KAA,” katanya.
Hasto menangkap kesan sang duta besar. Rupanya, Beste terkesan dengan sejarah yang terpampang di museum itu. “Tergores sejarah kepeloporan Bung Karno dalam KAA tersebut. Menurut Dubes Jerman, pemikiran dan spirit KAA masih relevan,” tutur Hasto. Sebuah percakapan yang dimulai dari kunjungan singkat ke Bandung, berlanjut ke diskusi mendalam tentang warisan pemikiran yang masih terus bergaung.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Angkat 7 Ton Ikan Sapu-Sapu untuk Jaga Ekosistem Sungai
Menteri HAM Nilai Laporan Polisi ke Dua Akademisi Tak Perlu dan Rusak Citra Pemerintah
Iran Tutup Selat Hormuz, Dua Kapal Diserang di Jalur Strategis Minyak Dunia
Jasa Raharja Perkuat Integrasi Data untuk Dongkrak Penerimaan Pajak Kendaraan