Deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia atau SW60 baru saja digelar di Jakarta, Jumat lalu. Momentum pembentukannya dinilai tepat oleh Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet. Menurut Ketua MPR RI ini, Indonesia sedang berada dalam situasi yang cukup pelik.
Fragmentasi sosial dan polarisasi politik terasa kian menguat. Belum lagi derasnya arus disinformasi di dunia digital yang terus menggerogoti stabilitas nasional. Bamsoet melihat, fenomena perpecahan ini bukan isapan jempol belaka.
Gelombang demonstrasi besar sepanjang 2025, yang melibatkan puluhan ribu massa di berbagai daerah, adalah bukti nyata ketegangan yang ada. Suasana panas itu ternyata tak cuma di jalanan.
"Kita sedang menghadapi situasi di mana ruang publik dipenuhi informasi yang tidak semuanya benar," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026).
Dia melanjutkan, "Polarisasi sosial semakin tajam, bahkan berdampak ke hubungan antar warga. Dalam kondisi seperti ini, peran wartawan senior sangat penting untuk menjaga arah dan akal sehat publik."
Di ruang digital, satu isu kecil bisa meledak dalam sekejap. Percakapan di media sosial sering memicu jutaan interaksi, sayangnya dengan sentimen negatif yang mendominasi. Masyarakat terbelah, cara pandang mereka terhadap isu publik jadi serba hitam putih.
Bamsoet, yang juga mantan Ketua DPR RI, memaparkan betapa hoaks dan disinformasi telah memperkeruh keadaan. Sepanjang tahun lalu, video kerusuhan palsu, isu pengunduran diri pejabat, hingga narasi konflik fiktif bertebaran. Kehadiran buzzer yang aktif memengaruhi opini pun jadi bagian dari ekosistem informasi kita sekarang.
"Kita tidak bisa menutup mata bahwa perang informasi sedang terjadi," tegasnya.
"Hoaks, propaganda, dan manipulasi narasi menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa. Di sinilah wartawan senior harus mengambil peran sebagai penjernih sekaligus penyeimbang."
Di sisi lain, tantangan lain yang tak kalah serius adalah politik identitas. Eksploitasi isu agama, etnis, dan kelompok sosial tertentu dalam kontestasi politik telah mempersempit ruang dialog. Potensi konflik horizontal pun membesar.
Dalam situasi seperti ini, peran media jadi sangat menentukan. Mau jadi pemicu atau justru peredam konflik?
"Karenanya, pers harus berdiri di garis depan dalam melawan politik identitas dan provokasi," pungkas Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini.
"Media tidak boleh terjebak dalam framing yang memperuncing perbedaan, tetapi harus mendorong persatuan."
Deklarasi SW60 sendiri dihadiri oleh sejumlah tokoh. Mulai dari Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, hingga sederet nama seperti Anies Baswedan, Susi Pudjiastuti, Rudiantara, dan tentu saja, puluhan wartawan senior lainnya.
Artikel Terkait
DJP Jatim III Resmikan Tax Center ke-31 di Universitas Widya Gama Malang
Dishub DKI Buka Pendaftaran Kartu Layanan Gratis di CFD Bundaran HI Minggu Ini
Bareskrim Gerebek Lima Gudang, Sita Ribuan Ponsel Ilegal
Australia Impor 250 Ribu Ton Urea dari Indonesia untuk Amankan Pasokan Pupuk