Jakarta, 18 April 2026 – Operasi pencarian yang melelahkan akhirnya berbuah hasil. Setelah helikopter Airbus H130 dengan nomor registrasi PK-CFX jatuh di kawasan hutan Sekadau, Kalimantan Barat, tim gabungan berhasil menemukan lokasinya dan mengevakuasi seluruh korban.
Medannya benar-benar berat. Titik jatuh pesawat itu berada di Bukit Puntak, wilayah Dusun Gandis, yang masuk dalam Kecamatan Nanga Taman. Hutan lebat dan kontur perbukitan membuat akses nyaris mustahil bagi kendaraan biasa.
Kodam XII/Tanjungpura tak main-main. Mereka mengerahkan ratusan personel dari berbagai satuan, seperti Poskotis Korem 121, Yonif TP 833/BD, Yonif 642/Kps, dan Kodim 1204/Sanggau. Mereka bergerak cepat, berkoordinasi dengan Tim SAR gabungan untuk menyisir area yang sulit itu.
Dukungan juga datang dari udara. TNI AU mengerahkan satu unit helikopter Super Puma untuk membantu mobilitas personel dan mempercepat proses evakuasi dari lokasi yang terpencil.
Komitmen TNI dalam misi ini ditegaskan oleh Asops Kasdam XII/Tpr, Kolonel Inf Ahmad Daud Harahap.
"Atas perintah Pangdam serta hasil koordinasi dengan Tim SAR gabungan, jajaran telah diarahkan untuk membantu pelaksanaan pencarian secara maksimal," ujarnya melalui keterangan tertulis, Sabtu (18/4).
Upaya keras itu membuahkan hasil. Tim dari Yonif TP 833/BD, dipimpin Mayor Inf Ikhwan, berhasil menemukan titik jatuh helikopter di wilayah perbukitan.
Proses evakuasi jenazah sendiri dimulai Jumat dini hari, tepatnya pukul 00.04 WIB. Delapan jenazah terdiri dari dua kru dan enam penumpang harus dipikul manual menggunakan kantong jenazah dari Basarnas. Mereka menempuh medan hutan dan bukit yang terjal, sebuah proses yang memakan waktu sangat lama.
Proses evakuasi jenazah korban jatuhnya helikopter di Sekadau, Kalimantan Barat. Foto: Metro TV.
Pukul 06.30 WIB, setelah perjalanan berliku, seluruh jenazah beserta barang bukti termasuk kotak hitam atau black box akhirnya tiba di posko yang berlokasi di Gereja Katolik Santo Yohannes, Dusun Gandis. Dari sana, jenazah kemudian dibawa menggunakan delapan unit ambulans menuju RS Bhayangkara di Pontianak untuk identifikasi lebih lanjut.
Secara keseluruhan, operasi evakuasi yang penuh tantangan ini berlangsung sekitar 6,5 jam. Waktu yang cukup panjang, dan itu semua karena kondisi geografis yang ekstrem serta keterbatasan akses. Sampai saat ini, penyebab pasti kecelakaan masih diselidiki. Semua pihak menunggu hasil analisis mendalam dari black box yang berhasil diamankan.
Meski begitu, satu hal yang jelas: TNI menegaskan komitmennya untuk terus terlibat dalam setiap operasi kemanusiaan. Sinergi dengan berbagai unsur akan diperkuat, tak hanya untuk evakuasi, tetapi juga penanganan pascabencana, demi keselamatan masyarakat.
Artikel Terkait
Megawati Ingatkan Bahaya Pangkalan Militer Asing bagi Kedaulatan
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Tuding AS Langgar Janji
TNI Bantah Keterlibatan dalam Penembakan Bocah di Puncak Papua
Megawati Sering Terima Kunjungan Dubes Bahas Isu Geopolitik Global