Delegasi Singapura Kagumi Pendekatan Budaya dalam Pembinaan Narapidana di Bali

- Jumat, 17 April 2026 | 22:30 WIB
Delegasi Singapura Kagumi Pendekatan Budaya dalam Pembinaan Narapidana di Bali

Kunjungan delegasi Singapura ke Bali baru-baru ini ternyata meninggalkan kesan yang dalam. Mereka mengaku belajar sesuatu yang berharga dari Indonesia, khususnya soal cara membina narapidana. Bukan dengan pendekatan keras, melainkan lewat sentuhan budaya yang kental.

Perwakilan Singapore Prison Service, Ayyub, tak menyembunyikan kekagumannya. Acara The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 di Bali itu rupanya memberinya sudut pandang baru.

"Saya sangat mengapresiasi kunjungan ini. Ini menjadi pelajaran penting bagi kami tentang bagaimana menggabungkan nilai budaya dalam proses pembinaan dan pembimbingan,"

Ucap Ayyub di sela-sela acara, Jumat lalu. Pernyataannya itu disampaikan setelah ia bersama rombongan dari berbagai negara menyambangi dua lokasi: Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Bangli dan Griya Abhipraya Dharma Laksana di Karangasem.

Di Bangli, para tamu disambut dengan beragam kreasi hasil tangan para napi. Mereka diajak berkeliling, melihat dari dekat fasilitas seperti Sarana Asimilasi dan Edukasi, layanan kesehatan, hingga unit kerja produktif. Suasana di sana tak sesumpek yang mungkin dibayangkan.

Namun begitu, pengalaman yang lebih menyentuh justru terjadi di Karangasem. Di Griya Abhipraya Dharma, para delegasi menyaksikan langsung bagaimana para klien pemasyarakatan dibimbing. Tempat ini menggandeng Yayasan Pesraman Guru Kula, memadukan pelatihan keterampilan praktis dengan penghayatan nilai-nilai budaya lokal.

Kepala Balai Pemasyarakatan Karangasem, Kornelis Keli, dengan semangat menerangkan filosofi tempat itu.

"Griya Abhipraya adalah rumah harapan bagi mereka untuk memulihkan diri sebelum kembali ke masyarakat. Kami membimbing melalui pelatihan vokasional yang berpadu dengan budaya lokal,"

Jelasnya.

Menurut Kornelis, pendekatan budaya inilah kunci utamanya. Proses pemulihan tidak hanya fokus pada mencetak tenaga kerja terampil. Lebih dari itu, yang dikejar adalah penguatan identitas diri dan upaya agar mereka bisa diterima kembali oleh lingkungan sosialnya.

Di sisi lain, tantangan global seperti kepadatan lapas dan angka residivisme atau pengulangan kejahatan memang nyata. Di tengah problem itu, Kornelis meyakini bahwa pendekatan berbasis budaya justru bisa jadi solusi yang lebih menyentuh akar dan berkelanjutan.

Singkatnya, kunjungan itu memberi gambaran utuh pada para delegasi. Mereka melihat sebuah alur: mulai dari pelatihan, layanan kesehatan, hingga tahap reintegrasi ke masyarakat. Semuanya dirajut dengan benang-benang kearifan lokal. Sebuah pelajaran, yang rupanya, datang dari tetangga terdekat.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar