Di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berbicara pada wartawan. Intinya, pemerintah tetap berpegang pada politik bebas aktif. Prinsip itu, menurutnya, juga berlaku di ranah ekonomi. Artinya, Indonesia bebas saja menjalin kerja sama dengan siapa pun, asal komitmen yang sudah disepakati bersama tetap dihormati.
"Yang jelas pemerintah Indonesia selalu mengedepankan politik bebas aktif dan dalam politik bebas aktif itu juga ada ekonomi bebas aktif," ujar Bahlil.
Ia melanjutkan, "Jadi kita boleh belanja di mana saja selama kita komitmen dengan orang-orang atau negara-negara yang telah kita melakukan ajak kerja sama, termasuk Rusia kemudian Afrika, Nigeria dan lebih khusus yang kita hargai juga adalah termasuk dengan perjanjian kita dengan Amerika."
Lalu, bagaimana dengan realitas di lapangan? Soal energi, kondisinya memang cukup menantang. Kebutuhan BBM nasional saat ini nyaris 1,6 juta barel per hari. Sayangnya, produksi minyak domestik kita cuma bisa menyumbang sekitar 600 ribu barel. Celah yang cukup lebar itu sekitar 1 juta barel terpaksa harus ditutup dengan impor.
Nah, di tengah situasi global yang serba tak pasti ini, Bahlil bilang kita harus jeli mencari cadangan. "Kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber, tidak hanya dari satu negara tapi di hampir semua negara," tegasnya. Diversifikasi sumber pasokan energi jadi kunci, agar ketahanan nasional tidak tergantung pada satu pihak saja.
Upaya itu sudah mulai terlihat. Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Rusia. Atas arahan presiden, Bahlil kemudian bertemu dengan utusan khusus dari negeri tersebut untuk membicarakan kerja sama jangka panjang.
"Alhamdulillah kemarin atas arahan Bapak Presiden sudah saya bertemu dengan Menteri ESDM dan utusan khusus daripada Presiden Putin," cerita Bahlil. "Kabarnya Alhamdulillah cukup menggembirakan bahwa kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita."
Tak cuma minyak mentah, pemerintah juga sedang menggarap diversifikasi untuk LPG. Impor kita untuk kebutuhan ini masih besar, sekitar 7 juta ton per tahun. Proses penjajakan kerjasama masih berlangsung, dan menurut Bahlil, butuh beberapa tahap pembicaraan lagi sebelum benar-benar final.
"Selain itu, kita juga melakukan komunikasi terkait dengan LPG," jelasnya. "Kita tahu bahwa LPG kita kurang lebih sekitar 7 juta ton setiap tahun kita impor dan sekarang kita lakukan diversifikasi dan Insyaallah kita juga akan mendapat support, tetapi yang ini masih butuh perjuangan masih butuh komunikasi dua atau tiga tahap, tapi kalau crude-nya saya pikir udah hampir final."
Lantas, apakah langkah mendekat ke Rusia ini akan bikin renggang hubungan dengan negara lain, misalnya Amerika Serikat? Bahlil menegaskan tidak. Baginya, kebutuhan nasional adalah yang utama. Crude yang kita butuhkan mencapai 300 juta barel per tahun, dan sumbernya harus dicari dari mana saja yang paling menguntungkan.
"Pasti pertanyaan kemudian adalah apakah dengan kita membeli crude dari Rusia kemudian bagaimana perjanjian kita dengan negara lain termasuk dengan Amerika?" ucap Bahlil. "Saya katakan bahwa kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel jadi semuanya kita ambil mana yang menguntungkan untuk negara kita harus kita lakukan."
Artikel Terkait
Netanyahu Setujui Gencatan Senjata 10 Hari dengan Lebanon, Pasukan Israel Tetap di Zona Keamanan
Indonesia Siap Ekspor Pupuk Urea ke India, Pastikan Stok Dalam Negeri Aman
Messi Resmi Jadi Pemilik Klub Divisi Lima Spanyol, UE Cornellà
Ketua Ombudsman Ditahan, Tersangka Suap Rp1,5 Miliar Terkait Nikel