BRIN Jajaki Kerja Sama Nuklir dengan Rosatom Rusia untuk Transisi Energi

- Kamis, 16 April 2026 | 14:30 WIB
BRIN Jajaki Kerja Sama Nuklir dengan Rosatom Rusia untuk Transisi Energi

Indonesia perlu buru-buru bersiap. Itulah penilaian BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional, dalam menghadapi tantangan energi di masa mendatang. Dan salah satu jalan yang dianggap krusial untuk menjaga kedaulatan energi jangka panjang adalah dengan serius menggarap teknologi nuklir.

Menurut Kepala BRIN Arif Satria, pihaknya kini sedang mematangkan langkah-langkah konkret. Tujuannya jelas: mempercepat transisi energi berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah. Baru-baru ini, upaya itu dibuktikan dengan kunjungan strategis ke markas besar Rosatom di Rusia, tepatnya pada Rabu lalu.

Di sana, Arif dan timnya berdiskusi cukup intens. Mereka bertemu dengan First Deputy CEO Rosatom, Kirill Komarov, beserta sejumlah anggota dewan direksi perusahaan nuklir raksasa itu. Pembicaraan berpusat pada penjajakan kerja sama teknis, tak terkecuali pengembangan infrastruktur untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.

"Diskusi kami dengan Rosatom bukan sekadar pertemuan formal, melainkan upaya menjajaki langkah-langkah nyata untuk menghadirkan energi masa depan yang stabil dan bersih bagi seluruh rakyat Indonesia,"

ujar Arif dalam sebuah keterangan tertulis.

Rosatom, sebagai pemain utama global, punya rekam jejak yang mumpuni. Arif melihat ini sebagai peluang strategis. Pengalaman panjang Rusia dalam mengelola energi nuklir, katanya, harus dimanfaatkan dengan skema kemitraan yang setara.

"Kita ingin memperkuat kapasitas riset dan inovasi lokal agar ekosistem nuklir kita nanti tidak hanya aman dan andal, tetapi juga berkelanjutan karena dikelola oleh talenta-talenta terbaik negeri sendiri,"

tambahnya.

Jadi, orientasinya bukan cuma soal membeli reaktor. Kerja sama dengan Rosatom diarahkan untuk membangun ekosistem riset yang menyeluruh.

"Fokus kami adalah kolaborasi yang komprehensif. Jadi, ini bukan sekadar beli teknologi, tapi kita dorong adanya transfer teknologi yang masif,"

tegas Arif.

Sebenarnya, hubungan Indonesia dan Rusia di bidang nuklir sudah terjalin puluhan tahun. Jejak kerja sama itu mencakup banyak hal, mulai dari riset, pengembangan teknologi, sampai pendidikan.

Dan melalui BRIN, pemerintah berjanji akan memastikan setiap langkah pengembangan nuklir di Tanah Air tetap mengutamakan tujuan damai. Standar keamanannya pun harus yang tertinggi, sesuai patokan internasional.

Di sisi lain, BRIN sendiri sudah punya pondasi. Mereka mengoptimalkan tiga reaktor riset yang ada: Serpong (RSG-GAS), Bandung (TRIGA), dan Yogyakarta (Kartini). Reaktor-reaktor itu bukan untuk listrik, melainkan untuk penelitian, melatih SDM, dan memproduksi radioisotop yang berguna di dunia kesehatan dan industri. Ini jadi modal yang cukup berharga.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar