Polisi di Tabalong Dorong Ekonomi Desa Lewat Ternak Kambing dan Kerajinan Pelepah Pisang

- Kamis, 16 April 2026 | 10:40 WIB
Polisi di Tabalong Dorong Ekonomi Desa Lewat Ternak Kambing dan Kerajinan Pelepah Pisang

Di pelosok Kecamatan Muara Uya, Tabalong, seorang polisi bernama Aiptu Fery Hermawan justru lebih dikenal sebagai penggerak ekonomi. Bukan cuma soal penegakan hukum, tapi kerja nyatanya membina petani, peternak, dan pelaku UMKM di desa binaannya. Sosok Bhabinkamtibmas Polsek Muara Uya ini bagi warga setempat adalah polisi yang solutif, selalu punya cara untuk mengatasi persoalan.

Karena aksinya itu, namanya pun diusulkan sejumlah warga untuk sebuah penghargaan. Deka Ali Asad, salah satu pengusul yang juga tokoh masyarakat, dengan semangat menceritakan beberapa program yang digarap Aiptu Fery.

"Bhabinkamtibmas dan Kades mendukung swasembada pangan dan perekonomian pada desa binaan, dengan inovasi pemanfaatan anggaran ketahanan pangan desa untuk bantuan ternak kambing guna dikembangbiakkan. Sehingga desa binaan menjadi percontohan dan penghasil lumbung ternak kambing."

Tak cuma itu. Ada juga pendampingan UMKM untuk mengolah pelepah kering pohon pisang jadi kerajinan peci dan topi bernilai jual. Lalu, untuk menangkal bullying di kalangan anak muda, dia merancang program 'Bedangsanak' yang merangkul remaja.

Ditemui terpisah, Deka Ali menjelaskan lebih rinci. Menurutnya, Aiptu Fery bersama pihak desa memang jeli memanfaatkan anggaran desa. Dana itu dipakai untuk memodali peternakan kambing dan sapi di Desa Uwie.

"Kemarin kan itu peternakan kambing dan sapi di Desa Uwie, terus kerja sama dengan berbagai pihak, dalam hal ini Pak Fery turut andil bidang pengawasan pelaksanaan program tersebut," kata Deka.

Mekanismenya sederhana tapi cerdas. Warga diberi modal indukan kambing dari dana desa. Nah, kalau kambingnya sudah beranak pinak, si penerima wajib mengembalikan anaknya ke desa. Lalu, anak kambing itu dipinjamkan lagi ke warga lain. Begitu seterusnya, berputar dan berkelanjutan.

Dampaknya nyata. Banyak warga yang tadinya cuma mengandalkan bertani atau bahkan menganggur, kini punya penghasilan tambahan dari beternak. "Yang jelas kan meningkatkan perekonomian masyarakat," ujar Deka.

Di sisi lain, inisiatif kerajinan dari pelepah pisang juga menuai hasil. "Pak Fery antusias banget. Ringan tangan beliau itu," kenang Deka. Produknya bahkan sudah tembus pasar tingkat kabupaten.

Soal program Bedangsanak, Deka menyaksikan sendiri sosialisasi yang dilakukan Aiptu Fery ke sekolah-sekolah dan TK. Tujuannya jelas: mengubah stigma menakutkan tentang polisi sekaligus mencegah perundungan sejak dini.

"Boleh ditanyakan ke masyarakat, siapa sih yang nggak kenal sama Pak Fery," ucap dia.

Kedekatannya dengan warga memang tak diragukan. Menurut Deka, Aiptu Fery akrab dengan seluruh ketua RT dan selalu berupaya menyelesaikan masalah dari akarnya, di tingkat lingkungan terlebih dahulu.

Dari Diskusi Sampai Jadi Percontohan

Sebelumnya, Aiptu Fery juga pernah menjadi kandidat Hoegeng Corner. Sebagai Bhabin di tiga desa, langkah awalnya di Desa Uwie dimulai sekitar empat tahun silam. Saat itu, dia berdiskusi dengan kepala desa tentang bagaimana memanfaatkan anggaran ketahanan pangan.

"Di desa kan ada anggaran ketahanan pangan, waktu itu kita koordinasi dengan kepala desa, ada memakai anggaran itu buat beternak kambing," ujar Aiptu Fery.

Musyawarah pun menghasilkan keputusan: beli 20 kambing untuk dibagikan. Agar programnya solid, dia menggandeng Dinas Peternakan. Hasilnya? Kini, setelah lebih dari tiga tahun berjalan, sekitar 80 persen warga Desa Uwie jadi peternak kambing. Populasinya mencapai 300-400 ekor.

"Sekarang jadi percontohan tingkat kabupaten sama provinsi," katanya bangga. Setiap minggu, puluhan kambing terjual, bahkan ada yang dikirim sampai ke Kalimantan Timur. Kini, program serupa mulai dikembangkan untuk peternakan sapi.

Pelepah Pisang yang Bernilai Rupiah

Program lain yang tak kalah unik adalah kerajinan dari pelepah pisang. Sudah dua tahun berjalan, ide ini lahir setelah Aiptu Fery belajar dari para perajin dan guru.

"Saya belajar sama perajin, sama guru-guru di tsanawiyah. Habis itu ajak masyarakat untuk tambahan ekonomi. Alhamdulillah satu peci bisa Rp 80-90 ribu harganya," ujarnya.

Bahan bakunya cuma pelepah kering yang biasanya terbuang. Setelah dikeringkan lagi, baru dibentuk. Saat ini ada empat perajin yang bisa memproduksi 3-4 tas atau peci per hari. Permintaannya stabil, sekitar 25-30 peci per bulan.

Bedangsanak dan Perhatian pada Kopi

Latar belakang tingginya kasus bullying di Muara Uya mendorong Fery menciptakan program Bedangsanak. Dia ingin anak-anak tak lagi takut pada polisi. "Kita ingin mengubah stigma itu," tegasnya. Sosialisasi digelar di sekolah dan TPA, sekaligus memberi pendampingan hukum pada kasus-kasus seperti KDRT.

Tak berhenti di situ, di Desa Santuun, perhatiannya beralih ke kopi. Potensinya bagus, tapi dulu pemasaran jadi kendala. Fery lalu mengajak Dinas Pertanian setempat membantu. Hasilnya luar biasa.

"Dan alhamdulillah sampai di Jakarta dan di-sample termasuk yang terbaik," kata Fery.

Ekonomi warga pun terdongkrak. Mereka kini menjual kopi dalam berbagai bentuk, dari buah mentah hingga biji kering. Harganya bervariasi, bisa mencapai jutaan rupiah per karungnya. Semua berkat sebuah kolaborasi yang dimulai dari kepedulian seorang polisi desa.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar