Dalam pembicaraan langsung pertamanya dengan Lebanon, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan prioritas utama negaranya. Tak tanggung-tanggung, target pertama adalah pembubaran kelompok Hizbullah. Baru setelah itu, Israel bersedia membahas perdamaian.
Netanyahu sendiri yang menyatakannya dengan jelas.
"Dalam negosiasi dengan Lebanon, ada dua tujuan utama: pertama, pembubaran Hizbullah; kedua, perdamaian berkelanjutan... yang dicapai melalui kekuatan,"
Pernyataan itu disampaikannya Kamis lalu, seperti dilaporkan kantor berita AFP.
Di sisi lain, dari Washington datang nada yang berbeda. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio justru menyambut pertemuan itu sebagai sebuah "kesempatan bersejarah". Pertemuan antara duta besar kedua negara di AS itu memang istimewa ini yang pertama kali terjadi sejak 1993.
Rubio tampak berharap.
"Harapan hari ini adalah agar kita dapat merumuskan kerangka kerja yang dapat menjadi landasan bagi terciptanya perdamaian yang aktual dan langgeng,"
Latar belakang desakan AS cukup jelas. Washington mendorong sekutunya, Israel, untuk segera mengakhiri operasi militer di Lebanon selatan, yang ditujukan pada militan Hizbullah yang didukung Iran. Dengan begitu, perhatian bisa dialihkan sepenuhnya untuk mengakhiri perang yang lebih besar, yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu.
Harapan serupa juga datang dari Beirut. Presiden Lebanon Joseph Aoun, pada Selasa (14/04), berharap pembicaraan ini bisa "menandai awal dari berakhirnya penderitaan rakyat Lebanon."
Penderitaan itu nyata dan dalam. Ribuan warga Lebanon tewas sejak konflik meletus. Ribuan lagi terluka. Lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, hidup dalam pengungsian. Situasi ini memicu perdebatan sengit di dalam negeri: haruskah Lebanon ikut serta dalam gencatan senjata dua minggu antara AS, Israel, dan Iran?
Namun begitu, semua harapan dan pembicaraan itu tampaknya berjalan satu arah. Hizbullah, aktor kunci di lapangan, dengan tegas menolak segala bentuk dialog dengan Israel. Bahkan, laporan-laporan menyebutkan kelompok ini justru meningkatkan serangan militernya, tepat saat perundingan antara Lebanon dan Israel berlangsung di AS. Sebuah sinyal yang keras dan tidak bisa diabaikan.
Artikel Terkait
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions Usai Imbang Lawan Sporting Lisbon
Anggota DPR Kecam Dugaan Pelecehan Seksual Verbal di Grup Chat Mahasiswa FHUI
Ade Rai Luncurkan Platform AI untuk Edukasi Kesehatan Gratis via WhatsApp
Luka, Makan, Cinta Tayang di Netflix 2026, Kisahkan Persaingan Sengit di Dapur Restoran