Suasana di Fakultas Hukum UI belakangan ini memanas. Penyebabnya, sebuah percakapan di grup chat mahasiswa yang penuh dengan nada pelecehan seksual tiba-tiba viral di media sosial. Isinya tak main-main: mereka dengan seenaknya menjadikan rekan-rekan mahasiswi sebagai objek obrolan mesum. Fakultas pun kini turun tangan mengusut tuntas kasus ini.
Semuanya berawal dari sebaran tangkapan layar yang beredar luas. Dari situ terlihat jelas, percakapan di grup itu benar-benar keterlaluan. Mereka tak segan menyinggung dan merendahkan perempuan. Menurut sejumlah saksi, percakapan itu sudah berlangsung cukup lama sebelum akhirnya terbongkar ke publik.
Merespon hal itu, pihak fakultas lewat akun Instagram resminya langsung bersuara. Mereka menyatakan telah menerima laporan dan tak tinggal diam.
“Fakultas mengecam keras segala bentuk perilaku yang merendahkan martabat manusia serta bertentangan dengan nilai hukum dan etika akademik,”
begitu bunyi pernyataan tegas dari Fakultas Hukum UI.
Forum Tegur 16 Pelaku, Sorakan Kemarahan Bergema
Tekad untuk menyelesaikan kasus ini dibuktikan dengan aksi nyata. Senin malam lalu, Auditorium FH UI menjadi saksi sebuah forum yang tegang. Enam belas mahasiswa yang diduga terlibat dalam grup chat mesum itu dikumpulkan. Mereka dipaksa berhadapan dengan konsekuensi perbuatannya.
Di forum yang berlangsung hingga dini hari itu, satu per satu mereka diminta meminta maaf secara terbuka kepada para korban. Suasana di dalam ruangan begitu mencekam. Sorakan kecaman dan kemarahan dari mahasiswa lain terus menggema, seperti terekam dalam berbagai video yang beredar.
Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menjelaskan bahwa forum ini digagas atas keinginan para korban sendiri. Mereka ingin permintaan maaf disampaikan langsung, di depan umum, bukan sekadar di belakang layar.
Awalnya, cuma dua pelaku yang berani muncul. Yang lain ogah-ogahan, diduga karena dilarang orang tua mereka.
“Pada akhirnya keempat belas pelaku lainnya berkenan untuk turun setelah saya melakukan dialog dengan orang tua mereka,” ujar Dimas.
Ia menambahkan, ia meyakinkan para orang tua bahwa forum ini aman dan tujuannya jelas: meminta maaf. Hasil dari forum ini nantinya akan dilanjutkan ke Satgas PPKS UI dan Dewan Guru Besar FH UI untuk ditindaklanjuti.
“Semoga pada akhirnya dapat terbit sanksi yang adil dan setegas-tegasnya,” harapnya.
Tak Hanya Mahasiswi, Dosen Perempuan Jadi Sasaran
Yang membuat kasus ini makin parah, korban ternyata bukan cuma mahasiswi. Belakangan terungkap, beberapa nama dosen perempuan juga ikut menjadi bahan obrolan tak senonoh di grup tersebut.
“Saya pun begitu mendengar, begitu melihat chat, oh nama saya (juga) ada di situ,”
kata salah satu dosen dengan nada kecewa dalam forum itu.
Dekan FHUI, Parulian Paidi Aritonang, sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan keras. Ia menegaskan fakultas sedang melakukan penelusuran dan verifikasi yang serius. Semua proses dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan tentu saja, keadilan.
Luka yang Tak Terlihat: Dampak Psikologis pada Korban
Lalu, bagaimana dampak sebenarnya dari pelecehan seperti ini? Menurut psikiater dr. Lahargo Kembaren, dampaknya bisa sangat berat, meski terjadi di ruang digital.
“Luka psikologis tidak selalu ditentukan oleh bentuk tindakan dan perlakuan yang dialami, tetapi oleh makna pengalaman traumatis yang dirasakan korban,” jelasnya.
Ia menegaskan, pelecehan verbal atau digital bisa menghancurkan rasa aman dan harga diri korban. Mereka merasa direndahkan, dipermalukan, dan dijadikan objek. Meski tak ada bekas fisik, lukanya justru di dalam.
“Secara psikologis, yang terluka adalah self-esteem, sense of safety, trust terhadap lingkungan sosial,” lanjut dr. Lahargo.
Efeknya bisa berkepanjangan. Korban bisa terus mengulang percakapan menyakitkan itu dalam pikirannya. Bahkan, dalam kasus tertentu, ini bisa memicu PTSD atau gangguan stres pascatrauma. Ringkasnya, dampaknya nyata dan dalam.
Artikel Terkait
Polda Riau Salurkan Puluhan Sapi Kurban Bantuan Kapolri dan Kapolda ke Pondok Pesantren Pekanbaru
Prabowo Tiba di Jakarta Usai Kunjungan Kerja ke Prancis, Bahas Lima Isu Strategis dengan Macron
Lonjakan Arus Libur Idul Adha, Contraflow Diberlakukan di Tol Jakarta-Cikampek Km 55-65
Libur Panjang Waisak dan Hari Lahir Pancasila, Kebun Raya Bogor Siapkan Jam Operasional Khusus dan Ragam Aktivitas Keluarga