SBY Tegaskan TNI Harus Netral dan Jauhi Politik Praktis

- Rabu, 15 April 2026 | 06:40 WIB
SBY Tegaskan TNI Harus Netral dan Jauhi Politik Praktis

Di sebuah acara di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa lalu, Susilo Bambang Yudhoyono berbicara banyak hal. Dari pengalaman beratnya memimpin negara, hingga harapan mendesaknya untuk institusi militer. Mantan Presiden ke-6 RI itu punya pesan jelas: TNI harus tetap netral, jauh dari politik praktis.

Acara Supermentor yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu jadi panggungnya. SBY, sapaan akrabnya, membuka dengan sebuah kilas balik. Ia bercerita tentang keputusan berat tahun 2011, saat kapal Indonesia disandera di perairan Somalia. Sebuah operasi yang penuh risiko.

“Saya mengambil risiko, itu bisa gagal. Kalau gagal, karier politik saya finish,” ujarnya.

Namun, katanya, kedaulatan dan keselamatan warga negara adalah harga mati. Ia mengakui jarak yang begitu jauh, bahkan lebih jauh dari London ke Falkland. Tapi akhirnya, operasi itu berhasil.

“Saya bangga dengan TNI yang melaksanakan tugas waktu itu karena profesional dan menjalankan amanah konstitusi,” kenang SBY.

Dari cerita heroik itulah, transisinya mengalir ke pesan inti. Pengalaman itu seolah mengingatkan betapa pentingnya TNI berpegang pada tugas pokoknya. Bukan malah terjun ke gelanggang politik.

“Oleh karena itu sebagai mantan panglima tertinggi, saya mendoakan agar TNI kita ke depan makin berjaya, makin kuat untuk negara kita,” harapnya.

Lalu, dengan nada yang lebih tegas, ia menyampaikan amanat.

“Sebagai mantan pelaku reformasi ABRI, tetaplah pada tugas pokok sesuai dengan konstitusi. Jangan masuk dalam politik praktis. Tetaplah netral dalam kehidupan demokrasi, netral dalam pemilu supaya menjadi adil.”

Poinnya jelas. SBY menegaskan bahwa TNI, Polri, sampai BIN itu adalah milik rakyat. Dan rakyat, menurutnya, hanya akan bangga pada tentara yang kuat sekaligus taat pada aturan demokrasi.

“Ingat, TNI, Polri, Badan Intelijen Negara itu milik rakyat, milik kita semua. Kita akan bangga TNI-nya hebat, jago, tapi juga patuh pada demokrasi dan the rule of law,” tegasnya.

Acara itu sendiri ramai dihadiri sejumlah tokoh. Tampak hadir putra-putra SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), bersama Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno. Beberapa menteri dan gubernur juga hadir, seperti Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, serta Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah. Kehadiran mereka seakan menegaskan betapa seriusnya pesan yang disampaikan mantan presiden itu malam itu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar