Di sebuah acara di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa lalu, Susilo Bambang Yudhoyono berbicara banyak hal. Dari pengalaman beratnya memimpin negara, hingga harapan mendesaknya untuk institusi militer. Mantan Presiden ke-6 RI itu punya pesan jelas: TNI harus tetap netral, jauh dari politik praktis.
Acara Supermentor yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu jadi panggungnya. SBY, sapaan akrabnya, membuka dengan sebuah kilas balik. Ia bercerita tentang keputusan berat tahun 2011, saat kapal Indonesia disandera di perairan Somalia. Sebuah operasi yang penuh risiko.
“Saya mengambil risiko, itu bisa gagal. Kalau gagal, karier politik saya finish,” ujarnya.
Namun, katanya, kedaulatan dan keselamatan warga negara adalah harga mati. Ia mengakui jarak yang begitu jauh, bahkan lebih jauh dari London ke Falkland. Tapi akhirnya, operasi itu berhasil.
“Saya bangga dengan TNI yang melaksanakan tugas waktu itu karena profesional dan menjalankan amanah konstitusi,” kenang SBY.
Dari cerita heroik itulah, transisinya mengalir ke pesan inti. Pengalaman itu seolah mengingatkan betapa pentingnya TNI berpegang pada tugas pokoknya. Bukan malah terjun ke gelanggang politik.
Artikel Terkait
Ghost in the Cell Joko Anwar Tayang April 2026, Usung Satir Politik di Balik Cerita Horor Penjara
Empat Prajurit TNI Segera Disidang Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Gubernur DKI Panggil Seluruh Wali Kota Bahas Penanganan Ikan Sapu-sapu
Tiga Peron Stasiun Bogor Ditutup 90 Hari untuk Proyek Perpanjangan Rel