Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad awal April ini, sayangnya, berakhir tanpa kesepakatan. Meski begitu, ada satu hal yang menarik perhatian dunia: upaya Pakistan sebagai mediator. Negeri itu mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari kedua negara yang berseteru itu.
Delegasi Iran menyampaikan terima kasih. Yang lebih mengejutkan, Presiden AS Donald Trump juga ikut memuji. Lewat sebuah unggahan di media sosial, ia menyebut Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Asim Munir sebagai "orang-orang yang luar biasa."
"Mereka terus-menerus berterima kasih kepada saya karena telah menyelamatkan 30 hingga 50 juta nyawa dalam perang mengerikan yang seharusnya terjadi dengan India," tulis Trump.
Untuk sekarang, negosiasi memang mandek. Tapi batas waktu gencatan senjata pada 22 April 2026 masih memberi celah. Masih ada kemungkinan pembicaraan dihidupkan kembali dalam beberapa hari ke depan.
Namun, delegasi AS punya syarat yang jelas. Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin perundingan di Islamabad, menegaskan posisi negaranya.
"Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya memiliki senjata nuklir dan tidak akan membuat fasilitas pendukung untuk mencapainya," katanya pada Minggu (12/04).
Juru Damai dengan Tetangga yang Bermasalah
Di balik pujian internasional, banyak pengamat yang mencermati sebuah ironi. Bagaimana Pakistan bisa disebut sebagai pendamai global, sementara hubungannya dengan dua negara tetangga Afganistan dan India justru sedang memanas?
Dengan Afganistan, hubungan memburuk sejak Taliban berkuasa pada 2021. Konflik terbuka bahkan terjadi sejak tahun 2025, dengan serangan udara Pakistan ke wilayah Afganistan. Sementara dengan India, ketegangan masih tersisa setelah eskalasi militer mematikan di Kashmir pada Mei 2025.
Farooq Sulehria, seorang pakar politik Pakistan, melihat hal ini sebagai sebuah kontradiksi yang nyata. Menurutnya, Cina justru yang kini menjadi tuan rumah perundingan antara Kabul dan Islamabad.
"Landasan ideologi Pakistan bertumpu pada permusuhan dengan India. Ketegangan dengan Kabul saat ini sebagian merupakan perpanjangan dari konflik itu, karena rezim Taliban justru semakin dekat dengan New Delhi. Ini membuat Islamabad murka," tegas Sulehria.
"Hal tersebut menunjukkan kontradiksi bila Pakistan menjadi pendamai global."
Bukan Kontradiksi, Tapi Respons yang Berbeda
Namun, tidak semua analis sepakat. Fatemeh Aman, peneliti di Atlantic Council, punya sudut pandang lain. Baginya, apa yang dilakukan Pakistan bukanlah standar ganda, melainkan respons yang wajar terhadap tekanan yang berbeda sama sekali.
"Situasi ini tidak sekontradiktif itu," ujarnya. "Pakistan sedang menghadapi dua realitas yang berbeda."
Menurut Aman, mediasi antara AS dan Iran adalah soal diplomasi dan pengaruh, dengan risiko yang relatif rendah. Sementara masalah dengan Afganistan adalah persoalan keamanan domestik yang mendesak, penuh dengan militansi dan ketidakstabilan perbatasan. Dua pendekatan yang berbeda untuk dua konteks yang tak bisa disamakan.
Pendapat serupa datang dari pengamat politik Raza Rumi. Ia menyebut keterlibatan Pakistan dalam isu AS-Iran sebagai "diplomasi berisiko rendah". Sementara ketegangan dengan Afganistan adalah tantangan keamanan langsung yang tak bisa dihindari.
"Apa yang terlihat sebagai dikotomi sebenarnya merupakan hasil dari perbedaan kepentingan kebijakan," papar Rumi. Setiap negara, lanjutnya, pasti menyesuaikan langkahnya berdasarkan ancaman dan kondisi yang dihadapi.
Ujian dari Dalam Negeri
Di luar dinamika hubungan luar negeri, para pakar juga mengingatkan tentang gejolak dalam negeri Pakistan. Tindakan keras terhadap partai oposisi PTI pimpinan Imran Khan, serta operasi militer di Balochistan dan Khyber Pakhtunkhwa, menjadi catatan penting.
Mereka berpendapat, menyelesaikan konflik domestik adalah kunci. Citra Pakistan sebagai juru damai akan jauh lebih kuat jika ia juga mengutamakan dialog di dalam negerinya sendiri.
"Perdamaian dan rekonsiliasi di provinsi Balochistan dan Khyber Pakhtunkhwa adalah keharusan," kata Sulehria. "Demokrasi yang berfungsi dengan baik sangat penting bagi Pakistan untuk memosisikan diri sebagai pendamai global."
Sayangnya, tambahnya, hal itu kecil kemungkinannya terjadi di bawah pemerintahan saat ini. Ia secara khusus mengkritik pemenjaraan Imran Khan sebagai langkah yang anti-demokratis.
"Kebijakan luar negeri mencerminkan situasi politik dalam negeri," tegas Sulehria.
Rumi menambahkan, Pakistan sebenarnya menghadapi kendala struktural yang rumit. Tindakan Islamabad, menurutnya, lebih banyak dibentuk oleh batasan situasi strategisnya daripada oleh kebebasan untuk memilih.
Pada akhirnya, peran Pakistan di panggung dunia memang menarik. Tapi jalan untuk menjadi pendamai sejati, rupanya, masih panjang dan berliku, dimulai dari halaman rumahnya sendiri.
Artikel Terkait
Puan Maharani: Media Vital sebagai Jembatan Aspirasi Publik ke Parlemen
Sekjen Golkar Desak Pembahasan RUU Pemilu Dimulai, Khawatir Ganggu Jadwal Rekrutmen KPU
Imigrasi Soekarno-Hatta Siap Layani 35 Ribu Jemaah Haji Mulai 22 April 2026
Helikopter PK-CFX Hilang Kontak di Sekadau, Delapan Orang dalam Pencarian