Naim Qassem, pemimpin Hizbullah, dengan tegas menolak rencana pertemuan antara perwakilan Lebanon dan Israel di Amerika Serikat. Baginya, pertemuan semacam itu cuma buang-buang waktu saja.
“Upaya sia-sia,” tegasnya. Menurut Qassem, sikap ini diambil karena militer Israel justru terus menggempur Lebanon. Jadi, ngapain lagi berunding?
Pidatonya yang disiarkan televisi itu terasa panas. Dia mendesak pemerintah Lebanon untuk punya sikap heroik: menolak menghadiri pembicaraan yang dijadwalkan di Washington DC hari ini. Rencananya, duta besar kedua negara untuk AS akan bertemu untuk membuka jalan negosiasi langsung.
Namun begitu, Qassem punya pandangan lain. Dia menilai semua ini cuma taktik. Tujuannya jelas: menekan Hizbullah agar meletakkan senjata.
“Israel dengan jelas menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah, seperti yang berulang kali dinyatakan oleh Netanyahu. Jadi, bagaimana mungkin Anda pergi ke negosiasi yang tujuannya sudah jelas?” ujarnya, menyebut nama Perdana Menteri Israel itu.
Dia lalu menambahkan, nada suaranya penuh keyakinan, “Kami tidak akan beristirahat, berhenti, atau menyerah. Sebaliknya, kami akan membiarkan medan perang berbicara sendiri.”
Memang, ketegangan di lapangan sudah memanas jauh sebelumnya. Israel menggencarkan serangan ke Lebanon awal Maret lalu, sebagai balasan atas rentetan roket yang diluncurkan Hizbullah. Padahal, gencatan senjata sebenarnya sudah berlaku sejak November 2024. Tapi faktanya, serangan mematikan Israel hampir terjadi tiap hari.
Di sisi lain, Hizbullah punya alasan sendiri. Mereka menyebut serangan tanggal 2 Maret itu adalah pembalasan. Dua hari sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dibunuh sebuah aksi yang mereka tuduh dilakukan AS dan Israel, di hari pertama perang AS-Israel di Iran.
Konsekuensinya sungguh berat. Pemboman dan invasi darat Israel di selatan Lebanon telah menewaskan sedikitnya 2.055 orang. Angka itu termasuk 165 anak-anak dan 87 petugas medis. Korban luka melonjak jadi lebih dari 6.500 orang. Sementara itu, sekitar 1,2 juta orang terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah mereka yang hancur.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Tinjau Bantuan Bedah Rumah di Kendari, Alokasi 2026 Melonjak Jadi 8.973 Unit
CFD Ditiadakan pada 31 Mei 2026, Bertepatan Perayaan Waisak
Polisi Tangkap Pengendara Motor Bawa Satu Kilogram Ganja saat Razia di Karawaci
Pemprov DKI Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor Mulai 1 Juni hingga 31 Agustus 2026