Enam pekan sudah perang berkecamuk, dan Selat Hormuz masih tertutup rapat. Ancaman terbaru datang dari Washington: Presiden Donald Trump mengancam akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar selat vital itu. Menanggapi hal ini, badan maritim PBB angkat bicara dengan nada tegas.
Menurut Sekjen Organisasi Maritim Internasional, Arsenio Dominguez, hukum internasional jelas melarang tindakan semena-mena semacam itu. "Tidak ada negara yang berhak melarang hak lintas damai atau kebebasan navigasi melalui selat internasional yang digunakan untuk transit internasional," tegasnya dalam sebuah konferensi pers, seperti dilaporkan AFP, Senin (13/4/2026).
Pernyataannya itu langsung menohok ancaman AS. Sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari lalu, akses selat strategis itu memang sudah dikuasai oleh pasukan Iran. Mereka hanya mengizinkan segelintir kapal yang sudah diverifikasi untuk melintas, itupun lewat rute yang sangat dekat dengan pantai mereka. Bahkan, kabarnya ada biaya yang harus dibayar untuk bisa lewat.
Dominguez menyoroti praktik ini. Menurutnya, memungut bea di selat internasional jelas melenceng dari hukum laut yang ada. "Ini akan menciptakan preseden yang sangat berbahaya," tambahnya, menekankan betapa rapuhnya aturan main global jika hal ini dibiarkan.
Lalu, bagaimana dengan ancaman blokade AS? Janji Washington itu, dalam pandangan Dominguez, sama sekali tidak membantu. Malah akan memperkeruh suasana. Yang dibutuhkan sekarang, katanya, adalah deeskalasi. Hanya dengan meredakan ketegangan, pelayaran internasional bisa kembali normal seperti sedia kala.
Namun begitu, ada sisi lain yang menarik. Dominguez justru meramalkan bahwa dampak blokade AS nantinya mungkin tak akan terlalu signifikan. Kok bisa? Alasannya sederhana: lalu lintas di selat itu sudah sangat sepi.
"Dengan jumlah kapal yang sangat sedikit yang berhasil melewati selat tersebut, blokade tambahan tidak akan memperburuk situasi hingga tingkat yang dapat dirasakan," imbuhnya. Ancaman itu terdengar keras, tapi di lapangan, efeknya mungkin hanya seperti tamparan di air laut yang sudah tenang.
Artikel Terkait
Lima Korban Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Dimakamkan, Tiga Warga Masih Hilang
Enam Warga Sesak Napus Akibat Asap Kebakaran di Kemayoran, Dievakuasi ke RS Hermina
Kebakaran di Permukiman Padat Kemayoran, 100 Personel Damkar Dikerahkan
Iran Tangguhkan Peran Mediasi Damai dengan AS sebagai Respons atas Invasi Israel ke Lebanon