Tes Kemampuan Akademik Pendidikan Kesetaraan Digelar, Inklusivitas ABK Jadi Sorotan

- Minggu, 12 April 2026 | 07:30 WIB
Tes Kemampuan Akademik Pendidikan Kesetaraan Digelar, Inklusivitas ABK Jadi Sorotan

Deg-degan, panik, tapi juga ada semangat. Itulah yang dirasakan Stefhanie Yemimma Aurellia saat menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) di PKBM Yayasan Nura Amalia. Meski persiapan sudah dilakukan sejak jauh hari, rasa tegang itu tetap saja datang. “Saya panik dan deg-degan, tapi sudah berusaha mempersiapkan diri sejak minggu lalu,” ujarnya.

Kutipan itu disampaikan lewat siaran pers Kemendikbud, Minggu (11/4/2026). Bagi Stefhanie, matematika jadi tantangan tersendiri. Tapi ia memilih untuk tetap optimis menunggu hasilnya.

Nah, yang perlu digarisbawahi, hasil TKA ini sama sekali bukan penentu kelulusan. Fungsinya lebih ke pemetaan capaian belajar peserta didik secara nasional. Soal kelulusan, wewenangnya tetap di tangan satuan pendidikan masing-masing.

Lebih Dari Sekadar Tes

Di sisi lain, pelaksanaan TKA ini memang punya misi yang lebih besar: menjadi instrumen pemetaan mutu pendidikan yang inklusif dan adil. Di SMPN 17 Bandung, misalnya, hari pertama TKA untuk peserta Paket B berjalan lancar. Pesertanya beragam, datang dari berbagai PKBM.

Yang menarik, kegiatan ini juga diikuti oleh Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Ini jadi bukti nyata upaya menghadirkan layanan pendidikan yang setara bagi semua warga belajar, termasuk mereka yang menempuh jalur nonformal.

Sejumlah PKBM seperti Guna Persada dan Nura Amalia memusatkan pelaksanaannya di lokasi yang sudah punya infrastruktur memadai. Tujuannya jelas: memastikan sarana dan prasarana tersedia dengan baik.

“Persiapan dilakukan mulai dari verifikasi data peserta, pengaturan ruang ujian, hingga penunjukan proktor dan teknisi untuk memastikan pelaksanaan berjalan lancar,” jelas Ali Umar Hamdani, Kepala PKBM Guna Persada.

Ali juga menegaskan soal inklusivitas. Berbagai penyesuaian dibuat agar peserta berkebutuhan khusus bisa mengikuti asesmen dengan optimal.

“Kami menyediakan fasilitas pendukung seperti perangkat dengan aksesibilitas, aplikasi pembantu, serta pendampingan dari pengawas yang telah memahami kebutuhan peserta ABK,” tambahnya.

Pengalaman yang Penuh Makna

Bagi peserta seperti Heri Gunawan, momen TKA ini benar-benar berkesan. Sebagai peserta tunanetra dari PKBM Guna Persada, ia merasakan campuran rasa gugup dan kepuasan usai tes. “Rasanya cukup deg-degan, tapi puas juga bisa menyelesaikannya,” ungkapnya.

Persiapannya pun tak main-main. Heri mengandalkan buku braille, audio digital, dan tentu saja bimbingan guru. Dukungan pendidik, katanya, sangat penting untuk memahami materi.

Tapi tantangan tetap ada. Soal-soal berbasis visual jadi hal yang paling menantang baginya. “Yang paling menantang itu soal yang berkaitan dengan gambar dan istilah matematika yang belum familiar,” jelas Heri.

Pendampingan selama tes juga ia soroti. Menurutnya, menggunakan laptop untuk ujian akan cukup sulit tanpa bantuan. “Kalau tidak ada pendamping, cukup sulit karena soal harus dibacakan terlebih dahulu,” katanya.

Meski begitu, ia merasa fasilitas yang disediakan sudah cukup membantu dan membuatnya nyaman.

Di Bandung, lebih dari seratus PKBM tersebar dengan peserta didik yang tak hanya dari dalam kota. Pelaksanaan TKA di pendidikan kesetaraan memang punya tantangannya sendiri: mulai dari kesiapan infrastruktur, SDM, hingga penyesuaian untuk ABK.

Namun begitu, dukungan pemerintah melalui pedoman, pelatihan, dan fasilitasi sarana terus dioptimalkan. Tujuannya satu: memastikan semuanya berjalan dengan baik dan adil bagi setiap pelajar.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar