Fadli Zon Serukan Efisiensi Energi dan Kerja Adaptif di Kementerian Kebudayaan

- Rabu, 01 April 2026 | 09:35 WIB
Fadli Zon Serukan Efisiensi Energi dan Kerja Adaptif di Kementerian Kebudayaan

Di Ruang Graha Utama Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta, suasana pagi itu cukup berbeda. Bukan sekadar rapat biasa, tapi sebuah pertemuan yang digelar untuk menyegarkan kembali semangat kerja. Acara bertajuk Refleksi dan Penguatan Etos Pemajuan Kebudayaan ini, seperti diketahui, merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden Prabowo Subianto soal efisiensi energi.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang hadir memberi sambutan, mengawali dengan nuansa kekeluargaan. Menurutnya, momen Idul Fitri baru saja berlalu adalah kesempatan emas untuk mempererat hubungan sekaligus meneguhkan niat bekerja. Tapi pesannya jelas: semangat itu harus diwujudkan dalam kerja nyata, terutama untuk mendukung program efisiensi energi yang sedang digalakkan pemerintah.

“Harapannya, semua upaya kita ini menjadi bagian dari pengabdian untuk masyarakat dan tentu saja, untuk memajukan kebudayaan,” ujarnya.

Namun begitu, Fadli Zon tidak menutup mata pada realitas yang ada. Dunia saat ini, katanya, penuh dengan ketidakpastian global. Dinamika geopolitik yang bergejolak berdampak langsung pada sektor energi dan ekonomi. Karena itulah, dia mengimbau seluruh aparatur kementeriannya untuk lebih peka. Salah satu wujudnya? Menerapkan prinsip efisiensi dalam setiap tugas dan program kerja.

“Kita harus punya sense of crisis terhadap situasi global ini,” tegas Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/4/2026).

“Efisiensi, termasuk dalam pakai energi dan pola kerja, harus kita terapkan. Misalnya, dengan skema kerja yang lebih adaptif seperti work from home di waktu-waktu tertentu. Tujuannya biar kinerja tetap optimal, tapi juga responsif sama kondisi yang terus berubah,” lanjutnya.

Lebih jauh, menteri itu menekankan bahwa refleksi dan penguatan etos kerja adalah modal penting. Tanpa itu, mustahil mendorong percepatan pemajuan kebudayaan. Kementeriannya, diingatkannya, harus mampu menjadi motor penggerak utama dalam ekosistem kebudayaan nasional.

Kuncinya ada pada kolaborasi.

“Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah sampai komunitas budaya, itu kunci buat memperluas dampak program-program kita,” ungkap Fadli Zon.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta melihat momentum ini dengan cara yang agak personal. Baginya, ini bukan cuma soal silaturahmi biasa. Ini adalah kesempatan untuk betul-betul merenung dan memperkuat komitmen bersama.

“Ayo kita semua perkuat semangat kebersamaan. Bersinergi dalam melakukan tugas pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan,” ajak Bambang.

“Upaya kita harus selaras, melalui elaborasi, kolaborasi, dan tentu saja dengan menghidupkan kembali tradisi leluhur,” ujarnya menambahkan.

Kegiatan ini, jelas Bambang, adalah bagian dari upaya terus-menerus Kementerian Kebudayaan. Tujuannya mendorong pemajuan kebudayaan Indonesia secara berkelanjutan. Bukan cuma sekadar melestarikan, tapi menjadikannya sebagai kekuatan strategis untuk menjawab tantangan zaman.

“Penguatan etos kerja, sinergi internal, peningkatan kinerja aparatur, plus kemampuan adaptasi pada dinamika global, itu semua penting,” tuturnya.

“Ini fondasi untuk membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif, tangguh, dan inovatif,” pungkas Bambang Wibawarta.

Acara yang digelar itu sendiri dihadiri oleh hampir seluruh jajaran pimpinan Kementerian Kebudayaan. Tampak hadir Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Inspektur Jenderal Fryda Lucyana, serta sejumlah direktur jenderal seperti Restu Gunawan, Endah T.D. Retnoastuti, dan Ahmad Mahendra. Tak ketinggalan, para pejabat dan pegawai lain turut memadati ruangan, menandai komitmen bersama yang ingin dihidupkan kembali.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar