Ia lalu membeberkan dua skema yang dipakai. Pertama, skema in-situ, di mana warga bisa bangun rumah sendiri di lokasi aman dengan dana stimulan Rp60 juta dari BNPB. Dananya dicairkan bertahap. Opsi lainnya, warga bisa menyerahkan sepenuhnya pembangunannya kepada pemerintah.
Lalu ada skema komunal. Di sini, rumah dibangun dalam satu kawasan yang lahannya disiapkan pemda. Pelaksananya bisa Kementerian PUPR atau lewat kolaborasi dengan lembaga lain, termasuk organisasi nonpemerintah tadi.
Di sisi lain, Tito juga memberi apresiasi khusus untuk Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu. Menurutnya, sang bupati bergerak cepat dalam menghimpun data kerusakan. Data yang lengkap dan akurat itu rupanya jadi kunci utama.
Berkat itu, bantuan seperti Jadup, Dana Tunggu Hunian, Bantuan Isian Hunian, hingga Bantuan Stimulan Sosial Ekonomi sudah mulai sampai ke tangan warga.
“Semakin cepat datanya, semakin cepat BNPB dan Kementerian PKP bisa bergerak,”
tegas Tito. Ia berharap daerah lain bisa mencontoh langkah ini agar proses verifikasi dan penyaluran bantuan makin lancar.
Sementara itu, Menteri Maruarar Sirait punya catatan lain. Ia menilai pemilihan lokasi huntap di Tapanuli Selatan sudah tepat. Alasannya, akses ke pasar, sekolah, dan rumah sakit cukup mendukung.
Pemilihan seperti ini, kata dia, sejalan dengan arahan Presiden untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar mempermudah kehidupan korban bencana ke depannya. Bukan sekadar menyediakan atap, tapi juga membangun kembali akses terhadap kehidupan normal.
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Wisatawan Tewas Tersambar Petir Saat Mandi di Pantai Lumajang
Wisatawan Tewas Tersambar Petir Saat Mandi di Pantai Bambang, Lumajang
Gelombang Arus Balik Lebaran Tiba di Bandung, 22 Ribu Pemudik Sudah Kembali
Ushuaia, Kota Paling Selatan di Dunia yang Jadi Gerbang Menuju Antartika