Kuala Lumpur, Sabtu – Pemerintah Malaysia sedang mengkaji serius kemungkinan mengadopsi tenaga nuklir. Kajian komprehensif ini dilakukan untuk memastikan segala sesuatunya siap, mulai dari kebijakan, aturan hukum, hingga kesiapan sumber daya manusianya.
Menurut Wakil Perdana Menteri Fadillah Yusof, langkah eksplorasi ini adalah sebuah strategi jangka panjang. Tujuannya jelas: memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
"Kebutuhan untuk mengevaluasi kelayakan tenaga nuklir semakin relevan di tengah lanskap energi global yang berubah," ujar Fadillah, yang juga menjabat sebagai Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air (PETRA).
Ia menambahkan, ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga bahan bakar fosil jadi alasan kuat di balik kajian ini. Inisiatif ini sendiri sejalan dengan Rencana Malaysia Ketigabelas yang baru-baru ini diajukan.
Di sisi lain, ketegangan global khususnya di kawasan Timur Tengah dan gangguan di jalur vital seperti Selat Hormuz sudah terasa dampaknya. Stabilitas pasokan energi global jadi taruhannya.
"Dalam situasi seperti ini, tenaga nuklir menawarkan solusi. Daya beban dasarnya stabil, rendah karbon, dan bisa mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil," jelasnya.
Penilaian teknisnya sendiri ditangani oleh MyPOWER Corporation di bawah kementerian PETRA. Lembaga ini ditunjuk sebagai Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO), yang akan mengoordinasikan persiapan berdasarkan rekomendasi bertahap dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Rupanya, Malaysia tidak sendirian. Beberapa negara tetangga di ASEAN juga mulai melirik kembali energi nuklir. Filipina, misalnya, punya target ambisius kapasitas nuklir 4.800 megawatt pada 2050. Vietnam sudah memasukkan kembali tenaga nuklir ke dalam peta jalan energi nasionalnya.
Sementara itu, Indonesia juga tak mau ketinggalan. Mereka sedang menjajaki teknologi reaktor modular kecil (SMR), bahkan yang terapung, dengan target operasional sekitar tahun 2030.
Fadillah menekankan, prioritas utama Malaysia adalah kehati-hatian. Setiap langkah pengembangan nuklir di masa depan harus melalui analisis teknis yang sangat mendalam. Semuanya harus selaras dengan prioritas nasional dan tentu saja, kewajiban internasional yang sudah disepakati.
Artikel Terkait
Ole Romeny Dinobatkan sebagai Pemain Terusung Usai Gol Tunggal Bawa Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik
Kebakaran Hanguskan Satu Dermaga dan Lima Speed Boat di Kayong Utara, Penyebab Masih Diselidiki
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,5 Persen, Rupiah dan Cadangan Devisa Terus Tertekan
AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran sebagai Respons Penembakan Helikopter Apache di Selat Hormuz