Jakarta - Momen mudik dan Lebaran selalu dinanti. Tapi, di balik sukacita bertemu keluarga, ada juga potensi tekanan yang bisa menguras emosi. Kementerian Kesehatan pun mengingatkan pentingnya menetapkan batasan. Tujuannya jelas: agar kebersamaan itu benar-benar memberi manfaat, bukan malah berujung stres yang mengganggu kesehatan mental.
Menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mudik itu lebih dari sekadar perjalanan fisik.
Lalu, bagaimana caranya? Persiapan dimulai sebelum berangkat. Imran menyarankan untuk menata harapan dan menentukan batasan yang realistis. Misalnya, mengatur durasi kunjungan, berani bilang butuh istirahat, atau merencanakan aktivitas bersama yang menyenangkan. Hal-hal sederhana ini bisa membuat reuni jadi lebih bermakna.
Di sisi lain, perjalanan panjang dengan kemacetan memang sering jadi ujian kesabaran. Rencana yang fleksibel bisa mengurangi tekanan saat terjadi keterlambatan. Ketika kecemasan mulai muncul, coba lakukan teknik pernapasan singkat atau latihan grounding untuk menenangkan diri sejenak.
Perhatian khusus juga perlu diberikan pada anak-anak.
Memberi anak pilihan kecil misalnya kapan mereka boleh memakai tablet bisa membuat mereka merasa dihargai, tanpa orang tua kehilangan kendali.
Harus diakui, mudik selalu membawa campuran perasaan. Ada rindu yang hangat, harapan akan kebersamaan, tapi sekaligus kecemasan soal dinamika keluarga yang mungkin menegangkan. Begitu tiba di kampung halaman, reuni yang dinanti bisa saja membuka luka lama atau memunculkan tekanan karena ekspektasi keluarga yang terlampau tinggi.
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka