Menurut sejumlah saksi, ancaman balasan ini bukan tanpa alasan. Serangan gabungan AS-Israel akhir Februari lalu memang menghantam keras. Mereka berhasil menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran kala itu.
Iran pun tak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balik ke Israel dan sejumlah pangkalan AS di kawasan Teluk. Bahkan Selat Hormuz sempat ditutup, membuat situasi makin mencekam. Di tengah gempuran itu, Netanyahu seperti menghilang dari pandangan publik. Hilang begitu saja.
Kini, dengan pernyataan terbuka dari Garda Revolusi, ketegangan memasuki babak baru. Apakah Netanyahu benar-benar bersembunyi? Atau ini semua bagian dari perang psikologis yang lebih rumit? Yang jelas, Timur Tengah sekali lagi menahan napas.
Artikel Terkait
Ragunan Siap Sambut Lonjakan Pengunjung Libur Lebaran, Buka H+1 Idulfitri
Ragunan Tutup Hari Pertama Lebaran, Targetkan 400 Ribu Pengunjung
Ganjil Genap Diberlakukan Ketat di 25 Ruas Jalan Jakarta Jelang Mudik Lebaran
Polisi Bongkar Jaringan Narkoba Berkedok Toko Pulsa dan Warung Sembako di Depok-Jaksel