Gejolak di Timur Tengah lagi-lagi jadi berita utama. Konflik yang tak kunjung reda, ketegangan di jalur energi, plus perubahan strategi negara-negara Teluk semuanya bikin pasar global jadi tak menentu. Bagi banyak negara industri, situasi ini jelas sumber risiko. Tapi, bagi kita di Indonesia, ada sudut pandang lain yang menarik untuk dilihat.
Menurut saya, justru di tengah ketidakpastian ini, peluang strategis bisa muncul. Asalkan kita memahaminya lewat kerangka berpikir ekonomi pembangunan ala Sumitro Djojohadikusumo. Inti pemikiran beliau sederhana tapi mendasar: negara harus memimpin perubahan struktur ekonomi. Kita harus beralih dari sekadar jual komoditas mentah, menuju industrialisasi nasional yang benar-benar berdaulat.
Nah, dalam konteks Timur Tengah yang panas, pendekatan Sumitro ini malah makin relevan. Kenapa? Karena kawasan itu memegang tiga kunci buat kita: energi, modal, dan pasar.
Energi sebagai Fondasi Industrialisasi
Industrialisasi takkan jalan tanpa pasokan energi yang stabil dan harganya terjangkau. Timur Tengah tetaplah raja minyak dan gas dunia. Dalam kerangka Soemitronomics, hubungan kita dengan mereka jangan cuma soal jual-beli. Ini harus jadi strategi keamanan industri nasional.
Kita perlu kontrak jangka panjang, perkuat cadangan strategis, dan kembangkan kerja sama di bidang petrokimia dan kilang. Dengan begitu, energi impor bukan cuma barang dagangan, melainkan bahan baku strategis untuk membangun industri dalam negeri.
Petrodollar sebagai Mesin Transformasi Industri
Negara-negara Teluk punya uang yang sangat banyak, dikelola melalui dana kekayaan negara atau sovereign wealth funds. Dalam logika Sumitro, modal asing bisa jadi alat pembangunan, asal diarahkan dengan tepat. Investasi dari sana harus masuk ke sektor-sektor yang memperkuat tulang punggung ekonomi kita.
Misalnya, industri petrokimia, kilang, pupuk, logam, atau kawasan industri ekspor. Intinya, uang mereka jangan cuma numpuk di investasi properti atau portofolio yang cepat keluar. Harus jadi mesin untuk membangun kapasitas industri kita sendiri.
Pasar Timur Tengah dan Ekspansi Industri Indonesia
Di sisi lain, Timur Tengah juga pasar yang menggiurkan. Ekonominya tumbuh, dan kebutuhan akan produk halal, farmasi, tekstil, hingga bahan bangunan sangat besar. Ini peluang emas untuk ekspor kita.
Dalam kerangka Soemitronomics, perluasan pasar seperti ini penting banget. Industri yang berorientasi ekspor akan terdorong untuk menyerap teknologi baru, naikkan produktivitas, dan akhirnya memperkuat posisi Indonesia di peta perdagangan global.
Mengelola Risiko Geopolitik
Namun begitu, kita tak boleh tutup mata soal risikonya. Konflik di sana kerap mengguncang jalur perdagangan global, terutama rute energi. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, risiko ini harus dikelola.
Caranya? Diversifikasi jalur perdagangan, perkuat logistik nasional, dan kembangkan industri domestik untuk kurangi ketergantungan impor barang strategis. Dengan langkah-langkah itu, gejolak geopolitik tak akan langsung menggoyah fondasi ekonomi kita.
Diplomasi Ekonomi yang Pragmatis
Sumitro juga menekankan, hubungan ekonomi internasional harus pragmatis. Berorientasi pada kepentingan nasional. Kita perlu jaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kawasan Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, Amerika tanpa memihak blok tertentu.
Pendekatan seperti ini memungkinkan kita memetik manfaat dari peluang global, tanpa terjerumus dalam rivalitas geopolitik negara-negara besar.
Jalan Menuju Kedaulatan Industri
Jadi, kalau dibaca dengan saksama, dinamika Timur Tengah justru membuka pintu lebar bagi Indonesia. Energinya bisa menopang industrialisasi kita. Petrodollar-nya bisa jadi sumber pembiayaan. Dan pasarnya bisa menampung ekspor manufaktur kita.
Tapi semua ini cuma jadi peluang kalau negara punya arah pembangunan yang jelas dan konsisten. Di sinilah relevansi pemikiran Soemitronomics terasa. Industrialisasi nasional butuh kombinasi pas: kepemimpinan negara, kemitraan dengan swasta, dan integrasi yang cerdas dengan ekonomi global.
Memang, Timur Tengah diliputi badai geopolitik. Tapi, bagi Indonesia, badai itu juga membawa arus peluang. Dengan strategi yang jitu, kawasan ini bisa jadi batu loncatan untuk mencapai kedaulatan industri dan kemakmuran yang kita idamkan.
AM Hendropriyono.
Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1976-1978).
Artikel Terkait
Hardiknas 2026 Jatuh pada Sabtu, Sekolah Tetap Libur Meski Bukan Hari Libur Nasional
Kemendikdasmen Tetapkan Aturan Upacara Hardiknas 2026, Peserta Wajib Pakai Pakaian Adat
Rupiah Anjlok ke Rp17.326 per Dolar AS, Negosiasi AS-Iran Macet Jadi Biang Kerok
Serangan Udara Israel Hantam Lebanon Selatan, Lima Anggota Satu Keluarga Tewas