Menteri Perdagangan Soroti Peran Swasta untuk Dongkrak Ekspor Jasa Indonesia

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 11:45 WIB
Menteri Perdagangan Soroti Peran Swasta untuk Dongkrak Ekspor Jasa Indonesia

Potensi ekspor jasa Indonesia masih sangat besar, dan itu bukan rahasia lagi. Tapi, untuk benar-benar melesat, peran swasta jadi kunci utamanya. Terutama di sektor ekonomi kreatif, yang diharapkan bisa jadi andalan baru di panggung global sekaligus penyumbang nilai tambah buat perekonomian kita.

Data Bank Dunia dalam sepuluh tahun terakhir (2014-2023) menunjukkan kontribusi jasa terhadap PDB dunia rata-rata mencapai 63,3 persen. Bandingkan dengan Indonesia, yang masih bertengger di angka 43,8 persen. Angka itu justru membuktikan satu hal: peluang untuk mengejar ketertinggalan masih terbuka lebar. Bank Indonesia sendiri mencatat, nilai ekspor jasa Indonesia ditargetkan mencapai USD 42,80 miliar pada 2025.

Menteri Perdagangan Budi Santoso berdialog dengan siswa SMK mitra Djarum Foundation.

Menteri Perdagangan Budi Santoso punya pandangan serupa. Dalam kunjungannya ke Kudus, Kamis lalu, ia menyebut masih banyak ruang bagi produk jasa untuk mendongkrak ekspor nasional. Busan, panggilan akrabnya, menekankan pentingnya membuka akses pasar yang lebih luas, khususnya bagi industri kreatif.

“Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana membuka akses untuk produk-produk kita, termasuk jasa. Seperti tadi yang disampaikan Djarum Foundation, penyiapan ekspor jasa harus berbasis suplai, bukan cuma menunggu permintaan,” ujar Busan.

Menurutnya, Kemendag sudah memfasilitasi promosi produk hingga business matching lewat atase perdagangan dan ITPC yang tersebar di 33 negara. Tak cuma itu, sejumlah perjanjian dagang seperti IEU-CEPA dan IEAEU-FTA juga disebutnya bisa jadi pintu masuk yang vital. Adanya tarif nol persen dari perjanjian itu, misalnya, tentu sangat membantu industri, termasuk para pelaku UMKM.

Di sisi lain, Budi Santoso juga menawarkan kesempatan pada Djarum Foundation dan perwakilan sekolah untuk memamerkan karya mereka di depan perwakilan dagang Indonesia. Tujuannya jelas: agar produk jasa yang dihasilkan bisa menarik minat pembeli potensial yang tepat.

Sementara itu, dari sisi penyiapan sumber daya manusia, Program Manager Djarum Foundation Galuh Paskamagma menjelaskan bahwa transformasi pendidikan telah mereka jalankan selama lima belas tahun terakhir. Lewat kemitraan dengan 20 SMK di Kudus, mereka menerapkan pendekatan ‘teaching factory’. Sistem ini dirancang untuk menyiapkan talenta yang benar-benar siap terjun ke industri, baik nasional maupun global, dengan membiarkan siswa mengerjakan proyek nyata.

“Dari dua puluh SMK mitra kami, sepuluh di antaranya sudah punya teaching factory dengan produk yang diterima pasar. Bahkan, satu teaching factory saja bisa membukukan pendapatan lebih dari Rp12 miliar per tahun,” jelas Galuh.

Hasilnya cukup konkret. Siswa SMK RUS yang fokus di animasi, misalnya, sudah mengerjakan portofolio untuk jenama besar seperti Disney Junior dan Netflix. Ada serial Barbie, Unicorn World, hingga Cocomelon. Karya bertajuk "Unstring Your Heart" bahkan sempat masuk nominasi di Kansas International Film Festival 2020.

Beragam karya busana bernilai jual tinggi dari siswa SMK NU Banat.

Lain lagi dengan SMK NU Banat yang spesialisasi di desain fesyen. Mereka sudah punya jenama sendiri, Zelmira, dan bahkan sedang menjajaki kerja sama produksi dengan sebuah hotel mewah di Jerman.

Galuh menyebut, hingga 2025 nanti, sekolah mitra mereka telah memperkuat lebih dari 63.000 alumni. Tingkat serapan industrinya mencapai 85 persen, dengan gaji di beberapa tempat bisa empat kali lipat UMR setempat.

Melihat potensi sebesar ini, Galuh mendorong agar akses ekspor dibuka lebih lebar. “Siswa-siswi SMK di sini sangat bisa bersaing di tingkat global. Mereka sudah menyumbang devisa dan mendukung operasional sekolah lewat produk yang dihasilkan. Kami yakin, kemampuan hebat ini perlu diiringi akses pasar yang lebih luas lagi,” tegasnya.

Jadi, ceritanya bukan lagi soal potensi yang tersembunyi. Talenta dan produknya sudah ada. Tinggal bagaimana membuka jalan agar karya-karya itu bisa sampai ke panggung yang lebih besar, dan memberi dampak nyata bagi perekonomian.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar