BMKG: Hilal Syawal 1447 H Sulit Teramati, Ketinggian di Merauke Hanya 0,91 Derajat

- Senin, 09 Maret 2026 | 13:50 WIB
BMKG: Hilal Syawal 1447 H Sulit Teramati, Ketinggian di Merauke Hanya 0,91 Derajat

Tanggal 19 Maret mendatang, sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah akan digelar oleh Kementerian Agama. Pertanyaannya, bagaimana kondisi hilal nanti saat pengamatan dilakukan?

Jawabannya bisa kita lihat dari prakiraan BMKG. Dalam dokumen bertajuk 'Informasi Prakiraan Hilal saat Matahari Terbenam Tanggal 19 Maret 2026', lembaga itu menyebut tanggal tersebut sebagai waktu konjungsi atau ijtima'.

Menurut BMKG, peristiwa konjungsi geosentrik ini akan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026, tepatnya pukul 08.23.23 WIB. Perhitungannya, periode sinodis bulan sejak konjungsi sebelumnya adalah 19 hari lebih 13 jam. Yang penting, konjungsi ini terjadi sebelum matahari terbenam di seluruh Indonesia pada tanggal 19 Maret.

Artinya, bagi yang menggunakan metode rukyat, pengamatan hilal penentu awal Syawal baru bisa dilakukan setelah matahari terbenam di tanggal itu.

Lalu, bagaimana prakiraan detailnya?

Ketinggian Hilal

Angkanya bervariasi. Di Merauke, Papua, hilal diperkirakan hanya setinggi 0,91 derajat. Sementara di Sabang, Aceh, posisinya lebih baik, yakni sekitar 3,13 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam.

Elongasi

Soal elongasi atau jarak sudut bulan-matahari, BMKG mencatat angka antara 4,54 derajat di Waris, Papua, hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.

Umur Bulan

Terakhir, umur bulan. Ini hitungan selisih waktu terbenam matahari dengan waktu konjungsi. Di Waris, bulan baru berumur sekitar 7,41 jam. Sedangkan di Banda Aceh, umurnya lebih panjang, mencapai 10,44 jam saat pengamatan.

Data-data teknis ini nantinya akan jadi bahan pertimbangan utama dalam sidang isbat. Tinggal kita tunggu keputusannya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar