Anggota DPRD DKI Desak Evaluasi Total Pasca-Longsor Tewaskan 4 Pekerja di Bantargebang

- Senin, 09 Maret 2026 | 13:40 WIB
Anggota DPRD DKI Desak Evaluasi Total Pasca-Longsor Tewaskan 4 Pekerja di Bantargebang

Longsor di TPST Bantargebang, Minggu (8/3) lalu, benar-benar sebuah tragedi. Empat nyawa melayang, dua orang selamat. Peristiwa pilu ini langsung mendapat respons dari anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth.

“Saya turut berduka cita yang mendalam,” ujar politisi PDI Perjuangan itu dalam keterangannya, Senin (9/3).

Bagi Bang Kent sapaan akrabnya musibah ini bukan sekadar kecelakaan kerja biasa. Ia menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan yang mestinya jadi alarm peringatan keras. Soalnya, kondisi pengelolaan sampah di Ibu Kota sudah lama dalam keadaan mengkhawatirkan.

TPST Bantargebang, seperti kita tahu, jadi penampung utama sampah Jakarta. Volumenya luar biasa besar, dan beban itu terus menumpuk hari demi hari.

“Tanpa penataan serius dan sistem yang lebih modern,” bebernya, “risiko bencana seperti ini longsor, kebakaran, pencemaran akan terus mengintai. Keselamatan pekerja dan warga sekitar selalu terancam.”

Ia pun mendesak Pemprov DKI untuk segera menggelar investigasi menyeluruh. Apa penyebab longsornya? Evaluasi mendesak diperlukan, mulai dari sistem keamanan, manajemen penumpukan, hingga standar keselamatan bagi para pekerja di lokasi.

“Saya minta evaluasi total. Keselamatan manusia harus jadi prioritas utama di fasilitas sebesar ini,” tegas anggota Komisi C itu.

Lebih jauh, Kent melihat momentum kelam ini harus jadi pemicu pembenahan besar-besaran. Selama ini, Jakarta masih terlalu bergantung pada metode landfill alias penumpukan, yang jelas-jelas sudah kewalahan.

“Jakarta sangat butuh transformasi sistem pengelolaan sampah,” ujarnya. “Harus lebih modern, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.”

Lalu, langkah strategis apa yang ia usulkan? Pertama, program pengurangan sampah dari sumber harus diperkuat. Artinya, pemilahan di tingkat rumah tangga perlu digencarkan. Selain itu, jaringan bank sampah di tingkat RW dan kelurahan harus diperluas, disertai edukasi yang masif agar pemisahan organik dan anorganik jadi kebiasaan.

“Dengan cara begitu,” sambungnya, “volume sampah yang masuk ke Bantargebang bisa ditekan signifikan.”

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar