Ketegangan di Timur Tengah yang memanas lagi bikin banyak orang kalang kabut. Bukan cuma penduduk lokal, tapi juga warga asing yang kebetulan sedang berada di sana. Konflik antara Iran dan Israel, dengan Amerika Serikat di belakangnya, membuat sejumlah negara harus buru-buru bertindak. Mereka berusaha memulangkan warganya secepat mungkin dari zona berbahaya itu.
Spanyol, contohnya. Tidak main-main, mereka langsung kerahkan Angkatan Udara. Sudah 171 warga negara Spanyol berhasil dievakuasi dari Oman. Mereka diterbangkan dari Muskat menuju tempat yang lebih aman.
Di sisi lain, pemerintah Ceko juga tak mau ketinggalan. Penerbangan repatriasi pertama mereka menggunakan pesawat militer telah mendarat di Praha pada Selasa, 3 Maret 2026. Penerbangan itu membawa pulang sekitar 40 orang dari Yordania.
Dan itu baru awal. Rencananya, akan ada setidaknya sepuluh penerbangan lagi yang disiapkan. Soalnya, jumlah warga Ceko yang masih terjebak di Timur Tengah dan terancam bahaya cukup banyak: sekitar 6.400 orang. Pekerjaan evakuasi mereka masih panjang.
Nasib serupa dialami warga Pakistan. Di tengah situasi yang mencekam, mereka berbondong-bondong menyeberangi perbatasan Taftan dari Iran masuk ke Balochistan. Kejadian itu terjadi pada Rabu, 4 Maret 2026.
Mereka mengungsi dengan membawa apa saja yang bisa diselamatkan. Barang-barang pribadi, tas, dan tentunya harapan untuk segera sampai di rumah. Menurut laporan pemerintah Pakistan, dalam tiga hari terakhir saja, lebih dari seribu warganya telah berhasil dipulangkan dari Iran.
Gambaran itu jelas menunjukkan satu hal: ketika konflik meledak, yang paling dirugikan seringkali adalah orang-orang biasa. Pemerintah mana pun pasti akan berusaha menyelamatkan warganya, meski medannya sulit dan penuh ketidakpastian.
Artikel Terkait
BRI Insurance Luncurkan OTOMAXY, Perkuat Transformasi Digital di Usia ke-37
Polri dan Kemenhaj Bentuk Satgas Haji hingga Level Polres untuk Cegah Kejahatan
Proses Leland Dimulai, Jalan Pengganti Longsor Danasasmita Bogor Segera Dibangun
Presiden Prabowo Minta Dosen dan Akademisi Dilibatkan dalam Proyek Tanggul Laut Raksasa