“Negara tidak hanya berhasil mencapai swasembada beras,” tegas Rizal.
“Tapi hari ini kita membuktikan mampu melakukan ekspor beras untuk memasok kebutuhan jemaah haji dengan produk terbaik hasil panen petani Indonesia. Ini adalah simbol harga diri dan kebanggaan nasional.”
Soal Kualitas dan Jaminan Stok
Lalu, bagaimana dengan kualitasnya? Beras yang dikirim secara bertahap itu punya standar tinggi. Asalnya dari gabah segar petani dalam negeri, lalu diproses di Rice Milling Unit modern. Kadar airnya terjaga, tingkat pecahannya tak lebih dari lima persen. Sudah lulus uji lab pula, memenuhi standar ekspor internasional, dan tentunya tersertifikasi halal.
Dukungan juga datang penuh dari Kementerian Haji dan Umrah. Mereka bahkan mewajibkan seluruh dapur penyedia konsumsi jamaah haji Indonesia di sana untuk menggunakan Beras Bulog Befood Nusantara pada musim haji 2026 nanti.
Di sisi lain, muncul pertanyaan: apakah stok dalam negeri bakal terganggu? Bulog memastikan tidak. Stok Cadangan Beras Pemerintah disebut masih aman dan terkendali. Jadi, kebutuhan beras masyarakat di sini dijamin tetap terpenuhi.
Momentum ini jelas memperkuat diplomasi pangan Indonesia di mata dunia. Ia menunjukkan bahwa produk pangan nasional kita punya daya saing, kualitas bagus, dan yang penting, kepercayaan dari pasar global. Bulog sendiri menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan tugas pemerintah secara profesional. Orientasinya jelas: berikan pelayanan terbaik untuk jamaah haji, sekaligus pukuhkan posisi Indonesia sebagai negara produsen beras yang mandiri dan kompetitif.
Artikel Terkait
Krisis Iran-AS Guncang Stabilitas Energi dan Geopolitik Asia
NasDem Gelar Buka Puasa Bersama Ratusan Anak Yatim di Sleman
Anggota DPR Peringatkan Dampak Kebijakan Iran pada Stabilitas Pangan Indonesia
Wall Street Pulih Didorong Data Ekonomi Kuat, Abaikan Sementara Eskalasi Timur Tengah