Konfrontasi militer yang terjadi antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran bukanlah sekadar baku tembak di kawasan. Ada pergeseran strategis yang jauh lebih dalam di baliknya. Intinya, ini soal menghancurkan infrastruktur nuklir Iran seperti Natanz dan Fordow dan sekaligus melemahkan jaringan proksinya yang tersebar dari Lebanon, Yaman, hingga Suriah. Tujuannya jelas lebih dari sekadar menjamin keamanan Israel.
Ini adalah langkah antisipasi yang sistematis. Sebuah upaya untuk membereskan "halaman belakang" sebelum Washington benar-benar memusatkan perhatian dan kekuatan militernya di kawasan Indo-Pasifik, menghadapi Tiongkok.
Begin Doctrine dan Evolusinya
Secara historis, Iran dianggap sebagai satu-satunya negara di kawasan dengan teknologi maju dan rezim yang cukup stabil untuk menantang hegemoni nuklir Israel secara permanen. Sementara itu, Israel sendiri berpegang teguh pada Begin Doctrine prinsip toleransi nol terhadap siapa pun yang berpotensi menjadi pesaing nuklir di wilayah mereka.
Tapi dinamika tahun 2026 menunjukkan perubahan yang signifikan. Dulu, pendekatannya cenderung presisi, seperti sabotase terhadap reaktor Osirak di Irak atau fasilitas Al-Kibar di Suriah. Kini, pendekatan itu berevolusi menjadi penghancuran total. Targetnya tak lagi hanya situs nuklir. Serangan gabungan AS-Israel yang disebut-sebut menurunkan kemampuan pengayaan uranium Iran hingga 75% pasca serangan, adalah buktinya.
Strateginya berkembang. Sekarang tujuannya adalah melumpuhkan infrastruktur, sumber daya manusia, dan sistem komando yang menopang ambisi nuklir Iran termasuk ekosistem komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang mengendalikan operasi regional. Ruang lingkupnya jadi lebih luas.
Israel berusaha memutus apa yang mereka sebut "Cincin Api", yaitu jaringan proksi Iran yang membentang dari Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, hingga milisi Syiah di Irak. Dengan memutus konektivitas komando dan logistik jaringan ini, Israel berharap ancaman perang asimetris di perbatasannya serangan roket, drone, dan proksi bisa dihilangkan.
Dalam kalkulasi strategis mereka, keamanan mutlak hanya akan tercapai jika Iran tak lagi punya kemampuan nuklir dan arsitektur proxy yang mampu membalas secara tidak langsung.
Motif di Balik Layar: Menyelamatkan Dolar
Di balik semua retorika tentang demokrasi dan keamanan, ada motif lain yang tak kalah penting: penyelamatan mata uang. Iran, bersama Rusia dan Tiongkok, telah menjadi motor utama gerakan dedolarisasi global. AS memandang serangan ke Iran sebagai langkah untuk menutup "pintu keluar" dari sistem moneter berbasis Dolar.
Pesan yang ingin disampaikan Washington keras dan jelas: setiap upaya perdagangan energi di luar Dolar akan menghadapi risiko militer yang fatal.
Sejak kesepakatan dengan Arab Saudi pada 1974, mayoritas perdagangan minyak dunia dilakukan dalam dolar AS. Hingga 2025, sekitar 58% cadangan devisa global masih disimpan dalam USD, dan 80% transaksi perdagangan internasional terutama energi menggunakan dolar. Investor asing memegang lebih dari US$7 triliun surat utang pemerintah AS, yang membantu membiayai defisit fiskal dan anggaran militernya yang hampir US$900 miliar per tahun. Ini adalah hak istimewa yang luar biasa.
Namun, beberapa tahun terakhir tren ini mulai terganggu. Tiongkok mendorong penggunaan yuan, Rusia dan Iran meningkatkan transaksi non-USD pasca sanksi. Iran, dengan ekspor sekitar 1-1,3 juta barel per hari ke Tiongkok sebagian besar non-USD menjadi laboratorium hidup bagi eksperimen energi tanpa dolar.
Di sinilah risiko penularan muncul. Jika satu negara energi berhasil bertahan di luar sistem dolar, negara lain bisa mengikuti. Permintaan terhadap dolar akan tergerus, perlahan tapi pasti. Dan perlu diingat, kawasan Teluk memasok sekitar 20% minyak dunia melalui Selat Hormuz. Menjaga stabilitas di sini bukan cuma soal minyak, tapi juga fondasi sistem moneter Amerika.
Ekspansi BRICS yang kini mencakup Iran dan produsen energi besar lain mewakili lebih dari 35% PDB global. Ini bukan sekadar klub politik, tapi embrio ekosistem finansial alternatif yang nyata.
Artikel Terkait
Kolaborasi Tiga Lembaga Gelar Pelatihan Ekonomi Syariah untuk 500 Penyandang Disabilitas
OJK dan Bareskrim Geledah PT MASI Usut Dugaan Manipulasi IPO
Sistem Pertahanan NATO Tembak Jatuh Rudal Iran yang Menuju Wilayah Udara Turki
Imigrasi Bogor Tangkap 13 WN Jepang Diduga Pelaku Penipuan Online