Di Desa Segati, Kabupaten Pelalawan, udara pagi itu terasa berbeda. Sebuah langkah konkret akhirnya dimulai: reforestasi di jantung Riau, Taman Nasional Tesso Nilo. Tak tanggung-tanggung, dua ribu bibit pohon mulai ditancapkan ke tanah, mengawali upaya panjang memulihkan kawasan yang sempat terluka.
Acara peluncurannya sendiri dipimpin langsung oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, Selasa lalu. Rombongannya cukup lengkap. Hadir Wamen Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, hingga Plt Gubernur Riau SF Hariyanto. Tampak juga Bupati Pelalawan H Zukri Misran dan sejumlah pejabat TNI-Polri serta Forkopimda setempat, mengisyaratkan betapa seriusnya agenda ini.
Dalam sambutannya, Menteri Raja Juli menegaskan, ini bukan sekadar seremoni menanam. Menurutnya, penghijauan ini adalah bagian dari strategi yang lebih komprehensif. Artinya, program penanaman bakal berjalan beriringan dengan penindakan tegas terhadap perambah liar. Jadi, ada dua sisi yang dikerjakan sekaligus.
“Selain kita menumbangkan sawit di TNTN, kita juga menyiapkan bibit-bibit pohon. Gunanya untuk ditanam guna mengembalikan fungsi hutan TNTN,” jelas Raja Juli.
Targetnya cukup ambisius. Untuk tahun 2026 ini saja, reforestasi akan menyentuh lahan seluas 2.557 hektare. Peluncuran di Segati itu sendiri mencakup area sekitar 400 hektare, dengan 2.000 bibit sebagai pembuka. Padahal, kalau dilihat dari gambaran besarnya, total lahan yang harus dipulihkan mencapai 69.000 hektare. Masih panjang memang, tapi setidaknya langkah awal sudah diambil.
Di sisi lain, dukungan dari berbagai pihak terlihat nyata. Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, misalnya, turun langsung ke lokasi. Kehadirannya bersama unsur TNI dan pemda bukan tanpa alasan. Mereka ingin memastikan proses pemulihan ini berjalan aman, terkendali, dan bebas dari gangguan.
Nuansa kolaborasi ini juga ditekankan oleh Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto. Sebagai Ketua Tim Terpadu Pemulihan Ekosistem TNTN, ia menyebut setidaknya ada 12 kementerian dan lembaga yang terlibat. Kolaborasi semacam ini diharapkan bisa menjaga prinsip kehati-hatian, sekaligus memastikan keadilan bagi masyarakat sekitar.
“Ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam pengembalian fungsi hutan, khususnya di TNTN. Mari sama-sama kita dukung kegiatan pemulihan ekosistem ini,” ajak Hariyanto.
Dengan pengawalan ketat dari ratusan personil Brimob, Samapta Polda, dan TNI, peluncuran ini diharapkan jadi titik balik. Sebuah sinyal kuat bahwa negara benar-benar serius. Bahwa Tesso Nilo harus kembali menjadi kawasan konservasi strategis, seperti fungsi awalnya. Jalan masih jauh, tapi setidaknya, benih haramannya sudah mulai ditanam hari itu.
Artikel Terkait
PDRB Jatim Tembus Rp3.403 Triliun, Kontribusi ke Nasional Capai 14,4%
Gus Ipul: Program Sekolah Rakyat Tunjukkan Hasil, Siswa Lebih Percaya Diri dan Berkarakter
Prodia Resmikan Klinik Stem Cell Pertama, Fokus pada Pengobatan Ortopedi
Prancis Tuding Hizbullah Serang Patroli UNIFIL, Satu Tentara Tewas di Lebanon Selatan