Keberhasilan seorang kepala daerah, menurut Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, bisa diukur dari hal yang sangat konkret: seberapa banyak warganya yang punya rumah layak huni. Itu sebabnya, dia mendesak para pemimpin daerah untuk benar-benar mendukung program ambisius Presiden Prabowo Subianto, yaitu membangun Tiga Juta Rumah.
"Kalau kepala daerahnya nggak bisa membuat rakyatnya punya rumah, makin banyak yang nggak punya rumah, gagal kepala daerah itu," tegas Tito dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/3/2026).
Pernyataan tegas itu disampaikannya di Singkawang, Kalimantan Barat, dalam sebuah acara sosialisasi yang membahas KUR Perumahan, rumah subsidi, serta upaya melawan rentenir. Bagi Tito, tolok ukur kepemimpinan bukan cuma soal administrasi yang rapi, tapi lebih pada kemampuan mengangkat harkat hidup masyarakat. Angka kemiskinan dan stunting yang turun, indeks pembangunan manusia yang naik, dan tentu saja, bertambahnya jumlah keluarga yang punya tempat tinggal yang layak.
Namun begitu, tantangannya masih sangat besar. Secara nasional, puluhan juta orang belum memiliki rumah atau masih tinggal di tempat yang tidak memadai. Pemerintah pusat pun memberi perhatian serius, merancang berbagai kebijakan dan terobosan pembiayaan. Upayanya tidak cuma membangun yang baru, tapi juga memperbaiki rumah-rumah yang sudah tidak layak. Semua skema dikerahkan, dari perbankan hingga sinergi lintas sektor, untuk mempercepat realisasi.
Efeknya, kalau program ini berjalan, akan luar biasa. Perekonomian bakal dapat dorongan besar. Sektor perbankan, industri bahan bangunan, transportasi, sampai UMKM semuanya ikut terdorong pertumbuhannya.
Di sisi lain, Tito juga mengapresiasi langkah sejumlah pemerintah daerah yang sudah membebaskan BPHTB dan retribusi PBG untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Kebijakan seperti ini bisa menekan biaya, membuat harga rumah lebih terjangkau. Tapi dia mengingatkan, regulasi saja tidak cukup. Implementasi di lapanganlah yang menentukan dampaknya bagi warga. Dia mendorong pemda di Kalbar untuk lebih giat lagi merealisasikannya.
Selain soal jumlah, Tito menyoroti aspek estetika. Terutama di Singkawang yang dikenal sebagai kota wisata. Dia mencermati masih banyaknya atap seng dan mendorong program "gentengisasi" yang dicanangkan Prabowo.
"Jadi tolong buat program juga yang non-seng lah. Seng tuh oke, murah, tapi nggak asri," ujarnya.
Menurutnya, penggunaan genteng atau material atap yang lebih estetis bisa memperkuat daya tarik kota dan bahkan membuka peluang bagi industri lokal. Jadi, fokusnya bukan cuma mengejar target unit, tapi juga memperhatikan kualitas visual kawasan permukiman, apalagi di daerah yang mengandalkan pariwisata.
Acara di Kantor Wali Kota Singkawang itu juga dihadiri oleh Menteri Perumahan Maruarar Sirait, Wali Kota Tjhai Chui Mie, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.
Artikel Terkait
Menteri HAM Nilai Laporan Polisi ke Dua Akademisi Tak Perlu dan Rusak Citra Pemerintah
Iran Tutup Selat Hormuz, Dua Kapal Diserang di Jalur Strategis Minyak Dunia
Jasa Raharja Perkuat Integrasi Data untuk Dongkrak Penerimaan Pajak Kendaraan
Mensos Tegaskan Hanya BPS yang Berwenang Tentukan Desil Penerima Bansos