Wall Street menutup sesi perdagangan Senin (2/3/2026) dengan performa yang beragam. Awalnya, pasar sempat terperosok cukup dalam menyusul berita serangan udara AS terhadap Iran. Tapi, menariknya, mereka berhasil bangkit dan membalikkan sebagian besar kerugian itu. Kenaikan di sektor energi dan teknologi jadi penyelamat utama, menahan laju sentimen negatif yang sempat melanda.
Indeks S&P 500 akhirnya ditutup sedikit menguat di level 6.879,33 poin. Padahal, sebelumnya indeks acuan itu sempat anjlok 1,2 persen. Nasdaq Composite, yang dipenuhi saham-saham teknologi, malah naik 0,4 persen ke 22.748,86 poin setelah berbalik arah dari penurunan 1,6 persen. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru sedikit melemah 0,2 persen, berada di 48.904,78 poin.
Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management, mengamati ketangguhan pasar AS dengan nada kagum. Menurutnya, waktu jeda selama akhir pekan memberi ruang bagi investor untuk mencerna situasi.
“Sungguh menakjubkan betapa tangguhnya pasar AS dalam menghadapi risiko geopolitik. Memiliki waktu satu akhir pekan penuh untuk mencerna apa yang terjadi membuat perbedaan besar. Ternyata teknologi adalah perdagangan yang paling aman hari ini bersama dengan emas, dolar, dan saham minyak serta pertahanan,” ujarnya kepada Investing.com.
Di sisi lain, ketegangan di lapangan justru memanas. Serangan gabungan AS dan Israel pada akhir pekan itu dikabarkan menewaskan ratusan orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan meluncurkan serangan ke Israel dan sejumlah negara lain di Timur Tengah, seperti Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Ini jelas sebuah eskalasi besar. Hubungan Washington dan Teheran yang sudah tegang akibat kebuntuan negosiasi nuklir, kini makin runyam. Kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala penuh di kawasan itu pun menggantung di pasar. Apalagi Iran sudah bersumpah akan membalas dendam.
Merespons situasi, Menteri Perang Pete Hegseth bersikap tegas dalam konferensi pers di Pentagon.
“Kita tidak memulai perang ini, tetapi di bawah Presiden Trump kita akan mengakhirinya,” tegas Hegseth.
Presiden Donald Trump kemudian menjabarkan sasaran operasi militer tersebut. Ada empat tujuan utama: menghancurkan kemampuan rudal Iran, melumpuhkan angkatan lautnya, memastikan negara itu tidak akan pernah punya senjata nuklir, dan menghentikan pemerintah Iran mendanai serta mengarahkan aksi teror.
“Kita sudah jauh lebih maju dari proyeksi waktu kita, tetapi berapa pun waktunya, tidak apa-apa. Apa pun yang diperlukan,” kata Trump.
Ia menambahkan, meski proyeksi awal operasi adalah empat hingga lima minggu, AS punya daya tahan untuk bertahan lebih lama dari itu.
Artikel Terkait
Karyawan Minimarket Bobol Brankas Rp52 Juta, Habiskan untuk Judi Online dalam 3 Jam
Bareskrim Gagalkan Penyelundupan Puluhan Ton Bawang di Pontianak
Ratusan Kapal Nelayan Cirebon Menganggur Akut Akibat Kelangkaan Solar
Petugas Jakarta Barat Dapat Apresiasi Rp 25 Ribu per Kg dan Jalan ke Ancol Atas Penangkapan Ikan Sapu-Sapu