MDA sendiri tengah berjibaku. Mereka memindahkan pasien-pasien yang rentan, mulai dari yang terbaring di tempat tidur hingga yang menggunakan ventilator, ke fasilitas yang lebih terlindungi. Semua tangan dikerahkan. Seluruh 39.000 karyawan dan sukarelawan organisasi itu kini dalam kondisi siaga penuh, atau seperti yang mereka sebut, "kesiapan puncak".
Semua ini berawal dari serangkaian serangan AS dan Israel terhadap target di Iran, juga pada hari Sabtu itu. Iran membalas dengan cepat dan keras, meluncurkan rudal-rudal yang menyasar berbagai wilayah Israel.
Namun begitu, ada satu hal yang kerap menjadi sorotan dalam setiap ketegangan seperti ini: ketimpangan perlindungan. Warga Arab Israel, yang merupakan keturunan Palestina dan tetap tinggal di tanah mereka sejak 1948, menyusun kurang dari 20% dari total populasi Israel yang 10,1 juta jiwa.
Komunitas ini sering bersuara. Keluhan mereka nyaris sama setiap kali: minimnya tempat perlindungan bom di desa dan kota mereka. Kondisi itu, mau tidak mau, membuat mereka jauh lebih rentan saat serangan rudal terjadi dibandingkan warga Israel lainnya.
Artikel Terkait
Razia Gabungan di Bogor Amankan 124 Botol Miras Selama Ramadan
Tangerang Luncurkan Bang Sama, Layanan Sembako Keliling untuk Tekan Harga
Iran Balas Serangan AS-Israel, Sasarkan Pangkalan Militer AS di Qatar
Masa Depan Pelatih Persis Solo Dipertaruhkan Saat Jamu Persik Kediri