Di sisi lain, Guterres juga menegaskan kewajiban semua negara. Mereka harus patuh pada hukum internasional, termasuk Piagam PBB, yang jelas-jelas melarang penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan negara lain. Ancaman saja tidak boleh.
Ia punya peringatan serius. "Saya menyerukan penghentian segera permusuhan dan de-eskalasi. Kegagalan untuk melakukannya berisiko memicu konflik regional yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan," kata Guterres.
Jalan satu-satunya, menurutnya, adalah kembali ke meja perundingan. Penyelesaian damai sesuai hukum internasional adalah opsi yang tak tergantikan. Titik.
Merespon perkembangan yang mencemaskan ini, Dewan Keamanan PBB akan segera bertindak. Sidang darurat dijadwalkan digelar di Markas Besar PBB, New York, Sabtu malam waktu Inggris. Permintaan sidang ini datang dari beberapa negara, termasuk Bahrain, Kolombia, China, Rusia, dan Prancis.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah mengonfirmasi bahwa operasi tempur besar-besaran terhadap Iran memang sedang berjalan. Konfirmasi ini, tentu saja, memicu amarah Teheran.
Iran mengecam keras, menyebut serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan yang tak bisa ditolerir. Mereka berjanji akan membalas dengan tegas. Suasana di kawasan sekarang masih sangat mencekam. Kekhawatiran akan perang yang lebih luas terus membayangi, dan semua pihak seolah menahan napas menunggu langkah selanjutnya.
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Dokumen Ungkap Upaya Terakhir Epstein Beli Istana Rp248 M Sebelum Ditangkap
Trump Umumkan Operasi Militer AS Skala Besar Dimulai di Iran
Polres Bogor Realisasikan Program Bedah Rumah ASRI untuk 13 Hunian Tidak Layak
AS dan Israel Luncurkan Serangan Besar, Desak Rakyat Iran Gulingkan Rezim