Ada angin segar buat industri kakao nasional. Kementerian Perindustrian melihat dua kebijakan perdagangan global terbaru bisa jadi pendorong ekspor yang cukup signifikan. Yang pertama, penundaan penerapan aturan deforestasi Uni Eropa atau EUDR. Lalu, ada juga kesepakatan dagang dengan AS yang menghapus tarif untuk kakao dan cokelat kita.
Menurut Putu Juli Ardika, Plt Dirjen Industri Agro Kemenperin, ini jelas membuka peluang. "Ini membuka peluang bagus untuk pasar kita," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat lalu.
Ia menekankan, semua pihak sekarang harus bersinergi agar hasilnya maksimal.
AS selama ini memang jadi pasar utama. Dengan tarif nol persen tadi, harapannya market share produk olahan Indonesia di sana bisa meroket hingga 11 persen. "Kita lihat hasil negosiasinya sangat bagus. Jadi kita berharap market share kita di Amerika itu sekitar 11 persen," tambah Putu.
Faktanya, dari total produksi kakao olahan nasional, sekitar 35 persennya sudah menembus pasar ekspor. Kebijakan tarif ini diyakini bisa mendorong angka itu lebih tinggi lagi, sekaligus memacu produksi dan memperkuat pasokan bahan baku di dalam negeri.
Di sisi lain, kinerja industri sebenarnya sudah menunjukkan tren yang menggembirakan. Sepanjang 2024, volume penggilingan atau grinding mencapai 422.176 ton. Angka itu tumbuh 4,43 persen dan menyumbang devisa hingga 3,42 miliar dolar AS. Cukup solid.
Artikel Terkait
Kemenkum dan Kemendikbud Sinergi Perkenalkan Literasi Kekayaan Intelektual Sejak Dini
CAS Tunda Putusan Kasus Naturalisasi Tujuh Pemain Timnas Malaysia
Anggota DPR: Parpol Sebaiknya Tak Urusi Dapur Program Makan Bergizi Gratis
Presiden Prabowo Gelar Rapat Tertutup Usai Kunjungan Luar Negeri