Kolaborasi dengan UNICEF, lanjutnya, adalah wujud nyata komitmen itu.
Guru dan Kepala Sekolah Dibekali Paket Pembelajaran
Di lapangan, program ini punya beberapa aktivitas konkret. Guru dan kepala sekolah, misalnya, akan dapat pelatihan. Mereka juga dibekali paket pembelajaran anak usia dini yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi murid.
Untuk anak-anak, akan ada bahan bacaan lokal yang lebih dekat dengan keseharian mereka. Kegiatan berkebun di sekolah juga akan digiatkan. Tujuannya sederhana: menumbuhkan kebiasaan hidup sehat sedari kecil.
Aspek gizi tak ketinggalan. Ada pemantauan pertumbuhan rutin, pemberian obat cacing, dan tentu saja kampanye peningkatan kesadaran gizi. Orang tua dan pengasuh tak dibiarkan sendiri; mereka akan dibekali pengetahuan praktis. Mulai dari cara mengatur pola makan sehat hingga tips mendukung pembelajaran anak di rumah.
Di sisi lain, program ini juga menyentuh level kebijakan. Pemerintah daerah dan pusat akan dibantu dalam hal perencanaan dan pengalokasian anggaran. Tujuannya agar hasil positif dari program ini baik di bidang pembelajaran maupun gizi bisa terus berlanjut bahkan setelah masa kemitraan berakhir.
Peluncuran kemitraan ini dihadiri pejabat senior dari kedua belah pihak. Dalam kesempatan itu, ditegaskan lagi bahwa dukungan terhadap kesejahteraan anak adalah fondasi penting. Bukan cuma untuk pemenuhan hak anak, tapi juga untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Nantinya, di akhir masa kerjasama, akan ada penilaian komprehensif. Instrumen internasional akan dipakai untuk mengukur peningkatan literasi, numerasi, dan status gizi anak. Dengan begitu, capaian program bisa terukur dengan jelas.
Artikel Terkait
Tes Urine Negatif, Polisi Temukan 4 Pelat Nomor Siluman di Mobil Pengemudi Ugal-ugalan di Gunung Sahari
Menteri Fadli Zon Tinjau Taman Budaya Bengkulu, Soroti Pentingnya Program Berkelanjutan
Pengemudi Pakai 4 Pelat Palsu Picu Tabrakan Beruntun di Gunung Sahari
Atalanta Lolos Dramatis, Juventus Tersingkir di Babak 16 Besar Liga Champions