Kapolda Aceh: Pemulihan Pascabencana Harus Lebih dari Sekadar Bangun Fisik

- Rabu, 25 Februari 2026 | 02:45 WIB
Kapolda Aceh: Pemulihan Pascabencana Harus Lebih dari Sekadar Bangun Fisik

Banda Aceh - Rekonstruksi pasca bencana di Aceh terus bergulir. Tapi bagi Kapolda setempat, Irjen Marzuki Ali Basyah, pekerjaan itu jauh lebih dalam dari sekadar menegakkan tiang dan menyusun batu bata. Ia menegaskan, pemulihan yang sesungguhnya tak boleh berhenti pada bangunan fisik semata.

Yang jauh lebih penting, katanya, adalah mengembalikan rasa aman, martabat, dan produktivitas warga yang terdampak.

“Pemulihan tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur,” ujar Marzuki dalam keterangan pers, Selasa (24/2/2026).

“Yang paling penting adalah mengembalikan rasa aman, aktivitas ekonomi, dan harapan masyarakat.”

Sejak masa tanggap darurat, Polda Aceh memang tak cuma jadi pengawas keamanan. Mereka terjun langsung mengawal seluruh proses, mulai dari pembangunan rumah hingga pemulihan jalur perekonomian. Tujuannya jelas: memastikan semuanya berjalan transparan dan tepat sasaran.

“Dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, Polri tidak hanya berperan sebagai pengaman proyek pembangunan, tetapi juga sebagai pengawal proses pemulihan agar berjalan transparan, tertib, dan tepat sasaran,” jelasnya lebih lanjut.

“Tujuannya bukan sekadar membangun kembali fisik wilayah terdampak, tetapi memastikan masyarakat benar-benar pulih dan bangkit lebih kuat.”

Komitmen itu kini terlihat nyata di Desa Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Tamiang. Di sana, pembangunan 150 unit Hunian Tetap (Huntap) terus dikebut. Progresnya sudah mencapai 60 persen, dengan target selesai Mei mendatang untuk langsung diserahterimakan.

“Pada tahap I sudah dibangun sebanyak 150 unit, dengan tipe Type 36 model Prycast dan Ruspin,” ungkap Marzuki.

“Saat ini progres pembangunan telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan selesai pada bulan Mei untuk segera diserahterimakan langsung Bapak Kapolri kepada warga.”

Jalan menuju pemulihan tentu tak mulus. Cuaca yang tak menentu, distribusi material yang rumit, dan koordinasi antar lembaga menjadi tantangan sehari-hari. Namun begitu, Marzuki mengaku semua hambatan itu diurai satu per satu lewat sinergi yang solid.

“Tantangan terbesar di lapangan meliputi faktor cuaca yang tidak menentu, distribusi material, serta koordinasi antarinstansi,” akunya.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar