MURIANETWORK.COM - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan kembali mengalami peningkatan ketinggian air pada Jumat (20 Februari 2026) setelah sempat surut. Kondisi ini dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi dan luapan dari Bengawan Jero, memperpanjang penderitaan warga yang telah menghadapi genangan air sejak November tahun lalu. Dampak ekonomi dan sosial pun semakin terasa berat di tengah upaya penanggulangan yang terus dilakukan.
Warga Hadapi Dua Kali Kesulitan
Di Dusun Meluke, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, suasana harap-harap cemas kembali menyergap. Istiana, salah seorang warga, menggambarkan bagaimana situasi justru memburuk setelah sempat ada tanda-tanda perbaikan. Genangan air yang sudah mengering terpaksa dihadapi kembali oleh warga, yang untuk sekadar beraktivitas sehari-hari sangat bergantung pada perahu.
"Sebelumnya sudah surut dan sekarang naik lagi. Selama banjir ini alat transportasinya pakai perahu," tutur Istiana.
Bantuan Dinilai Tak Sebanding dengan Kerugian
Keluhan tidak hanya datang dari sulitnya mobilitas, tetapi juga dari ketidakseimbangan antara bantuan yang diterima dengan lamanya musibah berlangsung. Rita Sugiarto, warga lain di desa yang sama, menyuarakan kekecewaannya. Bagi masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup pada usaha tambak, kerugian yang dialami bersifat ganda: bantuan terasa minim, sementara sumber penghasilan utama hancur total.
"Dapat bantuan telong kilo beras (tiga kilo beras), panen kami juga gagal. Ambyar, mulai tebar benih sampai sekarang enggak dapat apa-apa," ucapnya dengan nada prihatin.
Langkah Darurat dan Upaya Jangka Panjang
Merespons kondisi yang tak kunjung usai ini, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan, turun langsung meninjau lokasi terdampak di Dusun Meluke. Dalam kunjungannya, ia menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah-langkah kedaruratan guna mempercepat penyusutan air.
Rencana konkret yang akan segera diwujudkan adalah penambahan satu hingga dua unit pompa air berkapasitas besar. Selain upaya teknis tersebut, pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal bagi pengungsi tetap menjadi prioritas utama selama masa tanggap darurat.
Namun, di balik upaya darurat itu, terpendam harapan besar dari warga. Banjir yang telah berlangsung selama tiga bulan ini bukan hanya sekadar peristiwa, tetapi pengulangan tahunan yang menggerus kesabaran. Ada desakan kuat agar pemerintah di tingkat daerah, provinsi, hingga pusat dapat bersinergi lebih solid, tidak hanya menangani dampak, tetapi terutama mencari solusi permanen untuk mengakhiri siklus bencana yang terus berulang ini.
Artikel Terkait
Satpol PP Jakarta Barat Sita Lebih dari 2.000 Botol Miras Ilegal Selama Ramadan
Pemkab Bogor Tutup Seluruh Hiburan Malam Selama Ramadan
Polisi Tetapkan Tersangka Pelaku Pembakaran Musala di Maluku Tenggara
Angin Puting Beliung Rusak Puluhan Rumah dan Ratusan Pohon di Dua Desa Jember