Imam Nawawi Rangkum 5 Doa Mustajab untuk Berbuka Puasa

- Jumat, 20 Februari 2026 | 12:30 WIB
Imam Nawawi Rangkum 5 Doa Mustajab untuk Berbuka Puasa

MURIANETWORK.COM - Umat Islam di Indonesia dan berbagai belahan dunia telah memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, yang pada tahun 2026 Masehi dimulai pada Kamis, 19 Februari. Ibadah puasa, yang dijalankan dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengasah ketakwaan. Saat azan Magrib berkumandang, momen berbuka puasa pun tiba, menghadirkan kebahagiaan sekaligus menjadi waktu yang sangat dianjurkan untuk berdoa dan bersyukur.

Keutamaan Doa di Saat Berbuka

Berbuka puasa bukan sekadar ritual mengakhiri lapar. Dalam tradisi Islam, detik-detik pertama setelah seharian menahan diri ini diyakini sebagai salah satu waktu mustajabah, di mana doa-doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: seorang pemimpin yang adil, seorang yang berpuasa saat berbuka dan doa orang yang terzalimi, doanya diangkat di atas awan dan pintu-pintu langit dibukakan.” (HR Tirmidzi no. 2449)

Oleh karena itu, menyempurnakan ibadah berbuka dengan doa menjadi sangat penting. Isi doa pada dasarnya luas, mencakup segala permohonan kebaikan. Namun, para ulama telah merangkum sejumlah bacaan spesifik yang bersumber dari hadis. Imam al-Nawawi, seorang ulama besar bermazhab Syafi'i, dalam kitabnya Al-Adzkar mengumpulkan setidaknya lima ragam doa berbuka yang dapat diamalkan.

Ragam Doa Berbuka Puasa dari Kitab Al-Adzkar

Kelima doa berikut ini, meski memiliki redaksi yang berbeda, sama-sama mengajarkan sikap syukur, ketundukan, dan pengharapan akan rahmat Allah SWT. Pemilihan dan pengamalannya dapat disesuaikan dengan hafalan dan kekhusyukan masing-masing individu.

1. Doa Saat Dahaga Hilang

Doa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Sahabat Ibnu Umar RA ini mencerminkan rasa lega setelah seharian menahan dahaga, seraya berharap ketetapan pahala dari Allah.

“Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah.” (HR Abu Daud no. 2010)

2. Doa Pengakuan Ibadah dan Rezeki

Riwayat lain dari Abu Daud, melalui Mu’adz bin Zahrah, mengajarkan doa yang menegaskan bahwa puasa dan rezeki untuk berbuka semata-mata karena dan dari Allah SWT.

“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” (HR Abu Daud no. 2011)

Dalam praktiknya, doa ini sering kali ditambahkan dengan kalimat lain yang bermakna baik, seperti permohonan rahmat. Penambahan semacam ini selama tidak bertentangan dengan syariat, diperbolehkan dan justru menunjukkan kelapangan hati dalam berdoa.

3. Doa Syukur atas Pertolongan

Doa yang diriwayatkan oleh Ibnu Sunni ini mengajarkan sikap rendah hati. Seorang hamba mengakui bahwa kemampuan untuk berpuasa dan rezeki untuk berbuka adalah murni pertolongan dan pemberian dari-Nya.

“Segala puji bagi Allah yang menolongku maka aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.” (HR Ibnu Sunni)

4. Doa Bersama untuk Diterimanya Ibadah

Berbeda dengan doa-doa sebelumnya yang menggunakan kata ganti tunggal, doa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA ini menggunakan kata ganti jamak, cocok dibaca secara bersama-sama atau mewakili harapan keluarga.

“Ya Allah, karena Kamu kami berpuasa, dan dengan rizki-Mu kami berbuka, maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (HR Ibnu Sunni)

5. Doa Memohon Ampunan dengan Rahmat-Nya

Doa terakhir yang disebutkan Imam Nawawi ini bersumber dari riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Sunni. Doa ini langsung memohon ampunan dengan menyertakan sifat rahmat Allah yang Maha Luas.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”

Menjaga Adab dalam Berdoa

Selain mengetahui lafaz doa, memperhatikan adab berdoa akan semakin menyempurnakan permohonan kita. Beberapa adab yang dianjurkan dalam tradisi keilmuan Islam antara lain:

Pertama, mengawali dengan memuji Allah dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ini adalah bentuk penghormatan sebelum menyampaikan hajat.

Kedua, berdoa dengan penuh keyakinan dan harap, tanpa rasa tergesa-gesa. Doa yang dibaca dengan khusyuk dan pemahaman akan maknanya lebih utama daripada sekadar membacanya dengan cepat.

Ketiga, menghadap kiblat dan mengangkat tangan adalah sunah yang menunjukkan kesungguhan, meski tidak diwajibkan. Yang terpenting adalah kondisi hati yang hadir dan tunduk.

Keempat, menggunakan bahasa yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Doa bisa dipanjatkan dalam bahasa apa pun yang dipahami, karena Allah Maha Mengetahui isi hati.

Penutup: Esensi yang Lebih Penting

Merujuk pada kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi tidak mempersulit umat dalam memilih doa mana yang harus dibaca. Kelima doa tersebut sama-sama memiliki landasan riwayat. Bagi yang merasa berat menghafal semuanya, cukup mengamalkan satu atau dua doa yang paling dikuasai dan dirasakan mendalam maknanya.

Esensinya, momen berbuka puasa adalah kesempatan emas untuk membangun kembali hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Dengan menghadirkan ketulusan hati dan mengikuti tuntunan yang ada, detik-detik berbuka tidak hanya memulihkan tenaga jasmani, tetapi juga menyegarkan rohani, mengisi Ramadhan 1447 Hijriah dengan makna dan keberkahan yang lebih luas.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar