MURIANETWORK.COM - Suasana khidmat dan penuh harapan menyelimuti Vihara Tri Dharma Bumi Raya di Singkawang pada Selasa, 17 Februari 2026, seiring perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Ribuan umat dari berbagai daerah memadati vihara tertua di kota itu sejak malam sebelumnya untuk bersembahyang menyambut Tahun Kuda Api, dengan aktivitas yang diperkirakan ramai hingga perayaan Cap Go Meh.
Gelombang Umat Sejak Dini Hari
Arus kedatangan umat telah mengalir deras ke kompleks vihara di Jalan Sejahtera itu sejak fajar menyingsing. Suasana yang tercipta jauh lebih semarak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan lantunan doa dan harapan untuk keselamatan, kesehatan, serta kelancaran rezeki di tahun baru terus bergema di bawah langit-langit vihara yang bersejarah.
Penjaga vihara, Hiu Sau Khi, membenarkan tingginya animo masyarakat. Ia menuturkan, keramaian sudah dimulai sejak malam pergantian tahun.
"Dari tanggal 16 malam sampai sekarang ramai terus. Tadi malam juga ramai, ada kembang api tengah malam," tuturnya.
Dayatarik Lintas Daerah dan Filosofi Tahun Baru
Keistimewaan Vihara Tri Dharma Bumi Raya tidak hanya menarik warga lokal Singkawang. Tempat ibadah ini juga menjadi tujuan peziarah dari berbagai penjuru, bahkan mancanegara, yang ingin merayakan Imlek di lokasi yang penuh nilai sejarah.
"Kayaknya tahun ini lebih ramai. Yang datang sembahyang ribuan," ujar Hiu Sau Khi. Ia menambahkan, "Ada yang dari Jakarta, ada juga dari Taiwan, Hong Kong, dan Pontianak."
Perayaan tahun ini menandai pergantian dari Tahun Ular Kayu menuju Tahun Kuda Api, sebuah kombinasi dalam kalender Tionghoa yang terakhir muncul enam dekade silam, tepatnya pada 1966. Dalam kepercayaan setempat, Kuda membawa simbol energi, kebebasan, dan ketangguhan, sementara unsur Api melambangkan gairah serta semangat untuk bertransformasi.
Meski tidak merinci makna filosofis tersebut, Hiu Sau Khi menyimpan harapan sederhana namun mendalam untuk waktu yang akan datang.
"Harapannya lebih sukses, lebih baik dari tahun sebelumnya," ungkapnya penuh keyakinan.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Dibangun pada 1878, Vihara Tri Dharma Bumi Raya telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Singkawang. Awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai tempat persinggahan bagi para penambang emas dalam perjalanan mereka menuju Monterado di Kabupaten Bengkayang.
Kini, setelah lebih dari satu setengah abad berdiri, vihara tersebut tetap mempertahankan perannya sebagai pusat spiritual dan budaya. Setiap perayaan Imlek, ia menjelma menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah; ia adalah ruang di mana harapan berbagai generasi bertemu, di mana doa-doa dipanjatkan bersama untuk menyongsong masa depan dengan semangat baru yang membara, layaknya simbol Kuda Api yang sedang berkobar.
Kegiatan sembahyang dan perayaan di vihara ini, menurut pengelola, akan terus berlangsung dengan suasana yang hidup hingga puncak perayaan.
"Ramai sampai Cap Go Meh. Vihara ini terus buka," jelas Hiu Sau Khi menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Korlantas Polri Kerahkan Personel Awasi Truk Parkir di Bahu Tol Saat Imlek 2026
Jalan Demak-Semarang Terputus Total Akibat Ambles, Lalu Lintas Dialihkan ke Jalur Pantura
Kapolda Riau Tinjau Festival Budaya dan Perkenalkan Green Policing di Meranti
Presiden Atletico Madrid Bantah Ada Komunikasi Resmi Barcelona Soal Julian Alvarez