“Insyaallah dalam 1 hingga 2 bulan ke depan tidak akan ada lagi yang tidak bisa baca Alquran,” tegas Nana dengan penuh keyakinan.
Optimisme itu punya dasar. Untuk mencapainya, telah dilakukan persiapan matang melalui program Training of Trainer (TOT) bagi guru-guru Kelompok Pembinaan Islam (KPI) dan guru agama. Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) yang menyelenggarakannya. Intinya, para guru dibekali metode pembelajaran cepat, sehingga punya kompetensi untuk mengajarkan baca Al-Qur’an dengan efektif.
Pelaksanaannya bertahap. Sekitar 100 guru dilatih untuk kemudian menangani 300 hingga 400 siswa. Dengan skema seperti ini, setiap sekolah diharapkan bisa mandiri menjalankan program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di lingkungannya sendiri. “Dengan demikian, setiap sekolah diharapkan dapat secara mandiri melaksanakan program berantas buta baca Alquran,” pungkas Nana menutup penjelasannya.
Gebyar di alun-alun itu mungkin sudah usai. Namun, gaung dan tujuannya jelas masih panjang. Ia adalah awal dari sebuah ikhtiar kolektif yang ambisius, tapi sekaligus sangat manusiawi: memastikan tidak ada lagi anak-anak Serang yang terbata-bata membaca firman Tuhannya.
Artikel Terkait
Sekretaris Kabinet Silaturahmi dan Bahas Perkembangan Terkini dengan Wapres Gibran
FWP Polda Metro Jaya Ajak Anak Yatim Bermain di Playtopia Senayan Park
Stasiun Cikini Operasikan Lift Tangga untuk Aksesibilitas Penumpang
Seskab Teddy Silaturahmi ke Wapres Gibran, Bahas Kondisi Terkini Negara