DPR Harap Prabowo Tegaskan Dukungan untuk Palestina di Forum Perdamaian AS

- Selasa, 17 Februari 2026 | 06:25 WIB
DPR Harap Prabowo Tegaskan Dukungan untuk Palestina di Forum Perdamaian AS

Presiden Prabowo Subianto terbang ke Amerika Serikat. Salah satu agenda utamanya adalah menghadiri rapat perdana Board of Peace atau Dewan Perdamaian, sebuah badan yang baru saja dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump. Perjalanan ini tentu menarik perhatian banyak pihak di dalam negeri.

Menyikapi hal itu, Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta punya harapan besar. Ia berharap Prabowo bisa menegaskan kembali dukungan Indonesia terhadap Palestina di forum bergengsi tersebut.

"Menegaskan kembali dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan penuh Palestina melalui solusi dua negara yang adil, bermartabat, dan sesuai dengan hukum internasional. Forum ini harus menjadi ruang untuk memperkuat komitmen tersebut,"

kata Sukamta kepada para wartawan, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, Indonesia juga perlu mendorong dihentikannya kekerasan terhadap warga sipil di Palestina. Tanpa keamanan, mustahil membangun perdamaian yang langgeng. "Stabilitas dan keamanan merupakan prasyarat utama bagi proses perdamaian yang berkelanjutan," tegasnya.

Tak hanya itu, Sukamta juga menyoroti soal agenda rekonstruksi pasca-konflik. Ia menekankan bahwa pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak-hak rakyat Palestina. Baginya, perdamaian sejati harus dibangun di atas fondasi keadilan, bukan sekadar gencatan senjata yang bersifat sementara.

"Perdamaian yang kokoh harus dibangun di atas keadilan, bukan sekadar penghentian konflik sementara," ujarnya lagi.

Secara lebih luas, momen keikutsertaan Indonesia dalam rapat dewan perdamaian dunia ini dinilai sangat strategis. Sukamta berharap pemerintah bisa memanfaatkannya untuk mempertegas posisi Indonesia di panggung global sebagai bangsa yang konsisten membela perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pendapat serupa datang dari Wakil Ketua Komisi I lainnya, Dave Laksono. Ia melihat rapat Board of Peace ini sebagai momentum penting.

"Sidang perdana BoP menjadi momentum strategis untuk memastikan bahwa suara negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dapat terwakili secara adil dalam upaya menjaga stabilitas dan perdamaian dunia,"

kata Dave.

Keikutsertaan Indonesia, lanjutnya, jangan sampai dipandang sebagai sekadar simbol belaka. Ini adalah peluang untuk memberikan kontribusi nyata dalam membangun tata kelola perdamaian global yang lebih inklusif dan berkelanjutan untuk semua pihak.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar