MURIANETWORK.COM - Frederick Norewa, seorang pria asal Desa Letekonda, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, kini membangun kehidupan baru setelah menjalani masa hukuman penjara. Ia menemukan titik terang dan penghidupan yang lebih stabil dengan bergabung sebagai tenaga persiapan di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program yang memberikan makanan bernutrisi bagi kelompok rentan. Dari balik dapur inilah, Frederick tidak hanya mendapatkan kepastian ekonomi, tetapi juga kesempatan untuk berkontribusi bagi masyarakat sekaligus berdamai dengan masa lalunya.
Dari Balik Jeruji ke Balik Dapur
Suasana dapur MBG di Sumba Barat Daya selalu ramai dengan aktivitas sejak pagi. Di salah satu sudutnya, Frederick Norewa bekerja dengan tenang, menata potongan ayam, irisan wortel, kacang panjang, buncis, dan tempe dengan rapi. Bahan-bahan itu menunggu giliran untuk dimasak menjadi ribuan porsi makanan bergizi. Tugasnya mungkin terlihat sederhana, namun dari tangannyalah proses penting itu bermula.
“Saya potong-potong ayam kalau ada menu ayamnya, terus wortel, kacang panjang, buncis, tempe. Bawang ada juga, bawang putih, bawang merah,” tuturnya saat ditemui di tempat kerjanya pada suatu Jumat pertengahan Februari.
Luka Masa Lalu yang Telah Berdamai
Ketekunan Frederick di dapur itu menyimpan sebuah perjalanan panjang yang penuh liku. Titik balik hidupnya terjadi pada 1991 silam, ketika ia terseret dalam kasus penganiayaan berat. Insiden itu berawal dari sengketa batas tanah dengan kerabatnya, bukan persoalan ekonomi.
“Itu masalah perbatasan tanah. Bukan karena ekonomi,” jelasnya.
Perselisihan yang awalnya hanya adu mulut itu akhirnya memanas dan berujung pada tragedi. Frederick, yang saat itu sendirian, berhadapan dengan empat orang. Dalam kondisi ketakutan, sebuah ayunan langkahnya mengakibatkan luka serius pada lawannya.
“Yang pertama itu kita masih sempat bersilat lidah, terus kita masih baku ancam, payu kudung, terus kali ketiga itu sempat terjadinya kriminal itu. Mereka ada empat orang. Saya sendirian. Saya takut, begitu saya ayun langkah, satu kali. Tangannya putus,” kenangnya.
Pengadilan menjatuhkan vonis delapan tahun penjara. Setelah mengajukan keringanan, ia akhirnya menjalani hukuman selama enam tahun, yang kemudian dipotong masa remisi menjadi empat tahun enam bulan. Kini, konflik tersebut telah diselesaikan secara adat dengan prosesi perdamaian yang melibatkan simbolis hewan.
“Kemarin sudah damai. Dengan satu ekor kuda dan satu ekor kerbau,” ungkapnya dengan nada datar, menandakan bahwa amarah telah berakhir, hanya menyisakan kenangan.
Perjuangan Setelah Bebas
Keluar dari penjara ternyata bukan akhir dari perjuangan. Frederick menghadapi tantangan baru: stigma sebagai mantan narapidana dan ketidakpastian ekonomi. Ia kembali menggarap kebun dan sesekali bekerja serabutan sebagai tukang bangunan ketika ada proyek di desanya. Penghasilannya sangat fluktuatif.
“Kalau kerja bangunan, 60 sampai 80 ribu per hari. Tapi itu pun kalau ada panggilan,” ujarnya.
Hasil dari kebun pun tak lebih pasti, sangat bergantung pada cuaca. Dalam setahun, jika panen bagus, ia bisa mendapatkan sekitar tujuh hingga delapan juta rupiah. Frederick menyadari betul ketergantungannya pada alam dengan kalimat sederhana, “Alam yang berkuasa.”
Pintu Harapan yang Terbuka
Perubahan mulai mengemuka ketika sebuah bangunan baru didirikan tak jauh dari tempat tinggalnya. Rasa penasaran membawanya untuk bertanya, dan ia mengetahui itu adalah dapur program MBG. Dengan memberanikan diri, Frederick menawarkan tenaga dan, yang ia syukuri, diterima bekerja di sana.
“Sekalipun saya mantan narapidana, saya bersyukur masih diterima bekerja di sini,” ucapnya penuh syukur.
Pekerjaan ini memberinya sesuatu yang langka: kepastian. Ada insentif bulanan yang bisa ia andalkan, berbeda dengan penghasilan dari kebun atau proyek bangunan yang musiman.
“Kalau di kebun, saya tidak tahu alam yang berkuasa. Di sini saya hanya menunggu kapan menerima insentif,” katanya dengan senyum kecil.
Kebanggaan Memberi Nutrisi
Lebih dari sekadar urusan ekonomi, bekerja di dapur MBG memberinya kebanggaan dan makna baru. Frederick merasa ikut andil dalam menghadirkan makanan bergizi untuk anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Meski anak kandungnya sendiri belum menjadi penerima manfaat, ia merasakan kepuasan tersendiri setiap kali melihat makanan tersaji untuk para siswa.
Ia memahami betul kondisi di sekitarnya, di mana banyak anak pergi ke sekolah dengan perut kosong.
“Kadang anak-anak makan atau enggak, mereka jalan saja pergi sekolah. Dan itu membuat anak jadi lemah, bahkan pingsan,” paparnya.
Kehadiran program MBG, menurut pengamatannya, telah mengubah suasana. Ia melihat langsung dampak positifnya bagi semangat anak-anak.
“Mungkin lewat adanya sentuhan MBG ini, ya saya rasa anak itu senang. Senang sekali. Dan bahkan kita orang tua juga sangat senang,” lanjutnya.
Di dapur itu, Frederick merasa ia tak hanya memotong sayuran dan ayam, tetapi juga ikut memotong rantai kelaparan yang kerap mengintai anak-anak di desanya.
Harapan untuk Keberlanjutan
Di akhir percakapan, Frederick menyampaikan harapan yang tulus dan sederhana. Ia berterima kasih atas adanya program yang telah memberinya kesempatan kedua ini.
“Secara pribadi, ucapan limpah terima kasih bagi Pak Presiden Prabowo Subianto lewat adanya program MBG ini. Harapan saya, setelah masa Pak Prabowo, siapapun presidennya program ini akan tetap berkelanjutan,” harapnya.
Di antara kepulan uap panas dari kuali dan dentingan peralatan dapur, Frederick Norewa telah menemukan lebih dari sekadar pekerjaan. Ia menemukan ruang untuk memulihkan harga diri, berdamai dengan masa lalu yang kelam, dan dengan tekun menata ulang langkah untuk masa depannya yang lebih baik.
Artikel Terkait
Polri Ungkap Kronologi Kasus Narkoba yang Libatkan Mantan Kapolres Bima
Polri Tegaskan Pemberantasan Narkoba Tanpa Pandang Bulu, Termasuk Oknum Internal
Menteri Luar Negeri Taiwan Tuding Aktivitas Militer China Sebagai Provokasi
Bareskrim dan Bea Cukai Amankan Pria dan Sabu dalam Operasi di Rokan Hulu