Di balik angka-angka itu, ada kelompok rentan yang paling menderita. Setidaknya 74 balita, 82 lansia, dan 4 penyandang disabilitas termasuk di dalamnya. Lebih menyedihkan lagi, satu nyawa melayang. Adalah Siti Nurfadila (55), warga Desa Kaliwining, yang meninggal karena tersengat listrik saat membersihkan rumahnya pada Kamis malam.
Kerusakan infrastruktur juga cukup parah. Bayangkan, 11 rumah rusak, tiga jembatan ambruk, bahkan masjid dan balai desa pun tak luput. Satu ponpes, sekolah TK dan SD, serta TPQ terendam banjir. Dua belas speedboat milik warga pun hilang terbawa arus deras.
Warga sempat mengungsi, mencapai 557 jiwa. Mereka tersebar di beberapa titik pengungsian. Tapi sekarang, kata Edi, mereka sudah mulai pulang. Tugas berat membersihkan rumah dari lumpur dan kerusakan kini menjadi prioritas.
"Saat banjir menerjang, warga juga sempat mengungsi, yakni mencapai 557 jiwa yang tersebar di beberapa lokasi, namun hari ini semua warga sudah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumahnya pascabanjir," tambahnya.
Di sisi lain, penanganan sudah dilakukan. BPBD Jember bersama instansi terkait bergerak cepat menyalurkan bantuan logistik ke titik-titik terdampak di sepuluh kecamatan tadi.
Meski banjir sudah surut, kewaspadaan tak boleh kendur. Edi Budi Susilo mengingatkan, cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlanjut hingga 20 Februari mendatang menurut rilis BMKG. Warga Jember diharap tetap siaga, karena alam kadang tak bisa ditebak.
Artikel Terkait
Tim Hukum Klaim Identifikasi 16 Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus
Indodax Raih Dua Penghargaan Platform Kripto Terpercaya 2026
PBB Kecam RUU Hukuman Mati Israel, Sebut Kejam dan Diskriminatif
Gejolak Iran Ancam Rantai Pasok Industri, Harga BBM Dijamin Tak Naik