MURIANETWORK.COM - Harga minyak dunia kembali melanjutkan tren penurunannya pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu WIB), terdorong oleh kekhawatiran pasar terhadap prospek permintaan global yang melemah. Penurunan ini menandai pekan kedua berturut-turut harga komoditas energi ini tertekan, di tengah perkiraan peningkatan pasokan dari negara-negara produsen.
Mengutip data dari Yahoo Finance, Sabtu (14 Februari 2026), harga minyak mentah Brent berjangka, patokan internasional, terkoreksi menjadi USD 67,56 per barel dari posisi sebelumnya di USD 69,69 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka, patokan untuk pasar Amerika Serikat, juga melemah 0,2 persen ke level USD 62,71 per barel.
Analisis di Balik Pelemahan Permintaan
Laporan terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) menjadi salah satu pendorong sentimen negatif di pasar. Lembaga tersebut diketahui telah merevisi proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun 2026 menjadi lebih rendah.
Derren Nathan, Kepala Riset Ekuitas di Hargreaves Lansdown, menjelaskan lebih detail mengenai revisi ini. "Badan Energi Internasional memangkas prospek permintaan untuk 2026 sebesar sembilan persen menjadi 850 ribu barel per hari," ujarnya.
Nathan menambahkan bahwa gangguan pasokan akibat faktor cuaca dinilai hanya bersifat sementara. "Sementara gangguan pasokan akibat cuaca dingin diperkirakan hanya bersifat sementara, yang berarti perkiraan pertumbuhan pasokan hanya dipangkas sedikit, dari 2,5 juta menjadi 2,4 juta barel produksi harian," jelasnya. Imbasnya, pasar memproyeksikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan yang lebih longgar.
Faktor Geopolitik dan Tekanan Pasokan
Selain isu permintaan, dinamika geopolitik dan rencana produksi juga turut membayangi pergerakan harga. Para pelaku pasar terus memantau perkembangan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai pengiriman kapal induk tambahan ke wilayah tersebut jika kesepakatan tidak tercapai sempat menciptakan ketegangan. Namun, kepercayaannya bahwa negosiasi akan berhasil meredam kekhawatiran gangguan pasokan yang serius.
Di sisi lain, spekulasi mengenai kemungkinan peningkatan pasokan dari aliansi OPEC memberikan tekanan lebih lanjut. Kombinasi antara prospek permintaan yang direvisi turun dan potongan pasokan yang lebih kecil dari perkiraan awal akhirnya mendominasi sentimen perdagangan, mendorong harga untuk mengunci pekan kedua dalam zona merah.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Panggil Lagi dr. Richard Lee Pekan Depan
PJR Cikampek Gagalkan Pencurian Ban Serep Truk di Tol Jakarta-Cikampek
Magnesi vs Magsayo: Duel Penentu Calon Penantang Gelar Dunia WBC
Kasus Penganiayaan Ojol oleh Oknum TNI di Jakbar Diselesaikan Lewat Mediasi Damai