Kelompok Hamas akhirnya angkat bicara. Mereka merespons rencana Indonesia mengirim ribuan tentara ke Jalur Gaza sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).
Lewat pernyataan pemimpin seniornya, Osama Hamdan, Hamas menegaskan satu hal: wilayah kerja pasukan internasional termasuk dari Indonesia harus dibatasi hanya di perbatasan Gaza. Tak cuma itu, mereka juga minta tugas pasukan itu diperjelas. Intinya, mencegah agresi militer Israel dan menghentikan pelanggaran gencatan senjata.
ISF sendiri adalah pasukan penjaga perdamaian multinasional yang diamanatkan PBB. Ia dibentuk sebagai bagian dari rencana perdamaian Gaza yang dirancang AS dan disepakati Israel serta Hamas di akhir 2025.
Nah, Indonesia sudah menyatakan kesiapannya. Pemerintah tengah mempersiapkan pengiriman sekitar 5.000 hingga 8.000 personel TNI ke sana. Jika benar terealisasi, Indonesia bakal jadi negara pertama yang berkontribusi untuk ISF sesuai dengan rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump. Setidaknya, itulah yang dilaporkan sejumlah media Israel, yang menyebut belum ada negara lain selain Indonesia yang secara konkret menyiapkan tentaranya.
Pesan Hamas untuk Jakarta
Osama Hamdan mengaku Hamas sudah berkomunikasi langsung dengan pemerintah Indonesia.
“Setiap pasukan internasional harus berpegang pada peran netral di perbatasan dan tidak mengambil posisi yang bertentangan dengan kehendak rakyat Palestina atau menjadi pengganti pendudukan Israel,” kata Hamdan kepada Al Jazeera, Kamis (12/02) lalu.
Menurutnya, pesan itu sudah didengar Jakarta. Bahkan, pihak Indonesia disebut menegaskan bahwa mereka “tidak akan menjadi bagian dari pelaksanaan agenda Israel apa pun di dalam Jalur Gaza.”
“Dan, misi mereka harus dibatasi pada pemisahan antara warga Palestina dan pasukan pendudukan, serta mencegah agresi tanpa mencampuri urusan penduduk [internal],” lanjut Hamdan.
Pernyataan serupa sebelumnya juga disampaikan juru bicara Hamas, Hazem Qassem. Dia bilang, pasukan mana pun yang masuk Gaza harus dibatasi pada tugas penjaga perdamaian pemantauan gencatan senjata dan pengawasan implementasi rencana perdamaian tanpa ikut campur urusan internal Palestina.
BBC News Indonesia sudah mencoba menghubungi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri untuk meminta tanggapan. Sampai berita ini diturunkan, belum ada respons.
Ada Apa di Balik Peringatan Hamas?
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, punya tafsir. Menurutnya, Hamas sedang mengirim pesan ke dunia internasional, termasuk Indonesia, agar hak-hak rakyat Palestina diperhatikan. Khususnya dalam mempertahankan Gaza dari okupasi Israel.
“Sehingga tidak terkesan bahwa pasukan yang datang ke Gaza sebagai bagian dari intervensi atas wilayah Gaza, di mana Israel masih menduduki wilayah itu,” ujar Yon.
Kehadiran tentara internasional, lanjutnya, semestinya fokus pada tugas menjaga perdamaian, kemanusiaan, kesehatan, dan mencegah serangan Israel kembali. “Mereka tidak ikut campur dalam upaya melucuti senjata dari Hamas,” tegasnya.
Artikel Terkait
Kebijakan WFH Jumat Berpotensi Hemat BBM hingga Rp 59 Triliun
Polisi Tangkap Dua WN Liberia Terkait Penipuan Dolar Hitam ke Pengusaha Korea di Jakarta Barat
Pemerintah Alihkan Anggaran Hingga Rp130,2 Triliun untuk Prioritas Produktif
BRIN Klaim Teknologi Olah Sampah Siap Diterapkan dari Desa hingga Kota